Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Kita dan budaya kekerasan

Entah apa yang ada di benak kita ketka melihat Zulkaidah Kurniawati (Idah), seorang anak berusia 6 tahun asal Sanggau, Pontianak, Kal-Bar yang akhir-akhir ini sering menghiasi layar televisi nasional kita. Mungkin ada sebagian dari kita yang mengutuk dan menghujat apa yang telah dilakukan Satin, yang telah tega menganiaya anak angkatnya dengan cara sedemikian kejam. Tapi tak menutup kemungkinan ada juga diantara kita yang bersikap biasa-biasa saja dan menganggap tindakan brutal itu sebagai sebuah kewajaran yang tidak perlu dipanjanglebarkan.

Sikap biasa dan tak ambil pusing ini memang tak bisa semata dijadikan tolok ukur tingkat ‘kekejaman’ sebagian masyarakat kita. Bisa jadi sebenarnya mereka yang bersikap biasa saja itu bukanlah orang yang bisa dikategorikan sebagai pencinta kekerasan, melainkan hanya karena mereka adalah anak kandung yang dilahirkan langsung oleh sebuah sistem yang selama ini tanpa kita sadari telah mendidik, mengajarkan dan membiasakan masyarakat kita untuk menerima sebuah tindakan kekerasan sebagai kelumrahan yang tidak perlu diperdebatkan.

Lihat saja layar televisi kita yang setiap harinya menayangkan berita-berita kriminal yang tak jarang mempertontonkan secara vulgar adegan seorang pesakitan yang berdarah-darah karena dikeroyok massa, bentrokan fisik antara satpol PP vs pedagang, dan tak ketinggalan juga sinetron-sinetron hasil produksi anak-anak negeri kita yang mempertontonkan adegan-adegan kekerasan. Dimana itu semua tanpa kita sadari bersama, telah membentuk sebuah persepsi di alam bawah sadar kita yang mengamini pembenaran sebuah tindakan menyakiti manusia lain.

Bagaimana tidak, jika pembunuhan pun telah menjadi sebuah gaya hidup. Ya, beberapa waktu yang lalu saya menemukan sebuah berita tentang Indonesia Annual Airsoft Camp 2007, sebuah acara camp pecinta airsoft gun yang difasilitatori oleh Semarang Skirmish Team dan Dinas Pariwisata Kota Semarang yang diadakan di taman Tinjomoyo, Semarang, dimana acara itu diikuti oleh beberapa kelompok pecinta airsoft gun dari kota-kota lainnya. Selama beberapa hari mereka akan menggelar beberapa ‘pertempuran’ terbuka, untuk bisa saling ‘membunuh’ agar bisa saling mengalahkan satu sama lain.

Meski semua ini hanyalah sebuah permainan; dimana kematian disini bukanlah kematian yang sebenarnya; hal ini sedikit banyak telah merepresentasikan ketelanjangan jiwa-jiwa kita yang haus darah, jiwa-jiwa kita yang selalu bernafsu untuk saling mengalahkan dan mempecundangi pihak lain. Kenapa hal ini bisa terjadi? Tak lain dan tak bukan adalah dikarenakan oleh naluri kebinatangan bawaan kita semenjak lahir, serta didukung dengan tindakan orang tua kita yang dulu ketika kita masih kecil memilih memberikan sepucuk pistol mainan untuk mengajarkan arti tentang sebuah kejantanan.

2 komentar:

  1. utiksayang mengatakan...
     

    Anda salah menilai permainan airsoft sangat lekat dengan kekerasan karena (menurut) anda ada naluri bunuh-membunuh). Saya harap anda bisa melihat dari dekat dengan cara masuk dalam komunitas tersebut sebelum melakukan penilaian. Tak ada dendam apalagi saling mengumbar emosi dalam permainan ini. Yang ada justru menjalin persahabatan antar sesama air softer. Juga dalam komunitas ini mampu memupuk jiwa patriotis dan heroisme cinta tanah air. Jangan liat dari luar bung.
    Mohon maaf, saya bukan tidak setuju dengan tulisan anda, namun menurut saya ada yang kurang pas. Dan saya mencoba untuk ngepasin dengan mengajak anda mengetahui airsoft dari dalamnya. Permainan ini anda katakan mengandung unsur kekerasan, lalu bagaimana dengan olah raga Tinju, Karate, Judo. Silat dan Tae Kwon Do ?. Bukankah perlombaan harus ada yang menang dan kalah ? Kemenangan adalah simbol kekuatan, ketekunan dan kebaikan, sedangkan kekalahan simbol kekurangan atau kelemahan. Untuk itu permainan ini mengakahkan kita supaya tidak lemah.

  2. lintang lanang mengatakan...
     

    terima kasih atas tanggapan dan koreksinya.. mohon maaf jika saya dinilai salah menilai.. salam hangat..

Posting Komentar