Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Kapitalisme di balik topeng religi

Ironis. Kata itulah yang paling pantas untuk mengomentari sebuah ‘berita’ yang baru saja saya temui di sebuah stasiun televisi swasta kita. Feature news yang saya tonton itu memperlihatkan betapa indah dan megah-nya sebuah masjid di kota Depok yang memiliki enam buah kubah yang dilapisi emas 24 karat. Kenapa saya harus sedemikian nyinyir dan sinis menghakimi fenomena tersebut dengan menyebutnya dengan kata ‘ironis’? Karena menurut saya, pembangunan masjid yang bertujuan untuk memperlihatkan keagungan Islam itu, justru menempatkan Islam sebagai sebuah agama yang ternyata (maaf) tidak begitu peduli terhadap kemanusiaan.

Bagaimana tidak, jika kita semua mengetahui dan sering menemukan dengan mata kepala sendiri, bahwa di sekeliling kita ini masih sedemikian banyak manusia-manusia terlantar yang masih mempermasalahkan apakah hari ini bisa mendapatkan sesuap nasi demi mempertahankan hidup, tetapi justru agama yang katanya mempedulikan kemanusiaan justru menghambur-hamburkan uang dengan melapisi kubah-kubah masjid-nya dengan emas 24 karat hingga menghabiskan duit bermilyar-milyar.

Saya bukannya mau sok sosialis. Saya juga tidak bermaksud agar terlihat peduli dengan kemiskinan. Saya hanya berusaha bicara apa adanya sesuai logika. Menurut saya, perut manusia itu justru lebih penting daripada sekedar kerajaan Tuhan. Kenapa? Karena menurut saya, Tuhan tidaklah membutuhkan pemujaan semacam itu. Kerajaan yang dimiliki Tuhan jauh lebih indah daripada sekedar apa yang bisa manusia bangun di muka bumi ini. Dan karena itu, menurut saya ; sekali lagi menurut saya ; prosesi pengagungan Tuhan tidaklah harus melalui cara-cara konyol semacam itu. Saya bukannya tidak setuju dengan keberadaan masjid, gereja, pura, kelenteng, dan sebagainya. Saya menyadari, bahwa keberadaan bangunan-bangunan itu memang penting bagi mereka, umat beragama yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan-nya masing-masing. Tapi apakah pembangunan rumah Tuhan itu haruslah dengan cara menghabiskan duit yang tak kurang dari sembilan digit rupiah seperti itu? Saya kira tidak. Saya mungkin hanya akan diam, jika yang dibangun dari beratus-ratus ribu juta itu adalah mall atau hotel berbintang tigabelas, yang notabene adalah markas besar kapitalisme yang dibangun demi satu tujuan. Mesin pengeruk uang.
Tapi kalau masjid? Baitullah? Tentu saja saya tidak bisa diam. Meski saya memang hanya bisa bicara dengan tulisan. Sambil mengetik sambil berharap, akan ada banyak orang gila yang tidak terlalu punya kesibukan lain hingga mau meluangkan waktu membaca sesobek tulisan saya ini.

Mungkin saya memang orang yang berpikian terlalu praktis. Karena saya lebih peduli dengan fungsi daripada tampilan luar. Saya pernah mampir di sebuah masjid di Wonogiri. Saya lupa namanya. Tapi sepertinya itu masjid agung-nya kota Wonogiri. Ketika itu saya mampir setelah hunting foto festival layang-layang yang diadakan di Waduk Gajah Mungkur, karena teman-teman saya ingin menunaikan ibadah sholat Ashar. Dan saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala ketika mendapati sebuah menara nan mewah ; yang masih dalam proses pengerjaan ; yang menjulang di salah satu sudut halaman masjid tersebut. Saya berani memastikan bahwa proses pembangunan menara itu pasti menghabiskan biaya lebih dari 5 juta. Bayangkan. LIMA JUTA. Dan hanya untuk sebuah menara. Benar-benar sebuah tindakan yang tak bisa dilogika. Berapa lambung ; sebenarnya ; yang akan berterima kasih dengan tulusnya, jika uang sebanyak itu digunakan untuk membelikan nasi bungkus untuk mereka yang mengais-ngais sisa-sisa nasi basi di tempat sampah-tempat sampah KFC? Berapa kematian karena kelaparan yang bisa kita tunda jika kita melakukan tindakan mulia semacam itu?

Saya tak habis pikir, bagaimana mungkin para wakil rakyat yang didaulat untuk menyampaikan amanah suci masyarakat hanya bungkam dalam diam ketika melihat proyek pembangunan menara masjid yang jika dilihat dari segi fungsi adalah : tidak memiliki fungsi sama sekali, selain hanya sekedar menambah kesan artistik dan ajang pamer pemerintah daerah, untuk menunjukkan bahwa Kota Wonogiri adalah sebuah kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai religi yang mempunyai masjid indah nan megah.
Apalah arti kemegahan di pelupuk mata, jika ternyata masih banyak diantara masyarakatnya yang kebingungan mendapatkan air bersih untuk minum, mandi, dan mengairi padi? Untuk apa mempunyai simbol ke-religius-an yang mentereng, jika ternyata jiwa sosial kita berkerut menciut seukuran penis bayi yang kedinginan.

Saya memang tidak tahu, uang yang digunakan itu didapat dari mana. Jika memang yang dipakai adalah duit pribadi salah seorang konglomerat yang sudah turah bandha turah donya, yang hanya tinggal mengejar surga ;), mungkin itu tidak jadi masalah. Yang jadi masalah, adalah jika biaya pembangunan itu diambil dari uang infak yang di ikhlaskan para pen-derma-nya dan diharapkan bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna ; dan yang lebih parah lagi ; adalah jika yang dipakai adalah uang rakyat.

Ya. Saya memang tidak mengenal betul sifat-Nya Tuhan. Tapi saya yakin, Sang Khalik justru akan lebih senang jika mereka, orang-orang yang mengaku beragama itu justru menggunakan kekayaannya untuk hal-hal yang lebih berguna. Membangun panti asuhan, memberi makan untuk para gelandangan, atau membangun sesuatu yang bisa memberikan lapangan pekerjaan untuk para pengangguran, misalnya.
Tapi sekali lagi, saya memang terlalu bodoh untuk bisa mengikuti pola pikir mereka, orang-orang yang membangun candi-candi pemujaan nan mewah tersebut. Apa mereka tak pernah kepikiran, bahwa Tuhan itu tidaklah seperti sebagian besar penguasa kita yang gila harta dan gila kuasa, yang mematok syarat harus disediakan rumah dinas dan mobil baru nan mewah untuk fasilitas pelaksanaan tugasnya?

Saya memang belum pernah kesana. (Dan juga belum ingin kesana). Tapi saya yakin. Istana-Nya lebih dari apapun yang pernah kita temui. Lempengan-lempengan kuning emas hanyalah digunakan sebagai jambangan bunga bangkai di sudut taman belakang. Bukan untuk hiasan ukiran.
Saya yakin itu.

0 komentar:

Posting Komentar