Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Celoteh kecil tentang negeri ini

Dunia seni memang benar-benar sebuah surga, tempat dimana kita bisa berteriak tentang apa saja, tergantung dari apa yang ingin dan bisa kita teriakkan. Mulai dari sekedar tentang sesobek kebaya wanita tua, tentang seribu anak yang terlahir dari rahim-rahim pengemis, hingga tentang azab-azab konyol yang akan menimpa seorang haji yang mengkorupsi infak para santri. Semua boleh dan sah-sah saja untuk diteriakkan. Perkara bagus atau tidak, penting atau tidak, nyaring atau tidak, mencerdaskan atau tidak, itu lain masalah. Itu hak audience untuk menghakimi.

Dan dari sekian karya seni yang saya anggap sebagai sebuah karya yang bagus (dari segi ide), adalah sebuah film patriotik milik salah satu sutradara kita, Nan Achnas, yang berjudul Bendera. Terpaksa saya memberikan keterangan dari segi ide, karena secara teknik sebenarnya film ini sebenarnya amat jauh jika dibandingkan film-film kita yang lain yang cuma bicara tentang cinta remaja dan cerita mistik murahan, yang dua-duanya sama-sama merusak moral dan rasionalisme manusia.

Apa yang sebenarnya membuat film ini menarik di mata saya? Karena menurut saya, film ini berhasil menyuguhkan sebuah potret tentang patriotisme justru ketika rasa patriotisme kita sebagai anak bangsa mulai memudar. Film ini telah berhasil menampar halus kedua pipi kita, ketika kita disuguhi gambar yang memperlihatkan dua anak kecil yang ada dalam tiap-tiap adegan dalam film tersebut, yang dengan sepenuh jiwanya rela melakukan apa saja demi menjaga bendera (sebagai sebuah simbol negara). Dan sekarang yang jadi pertanyaan, apakah kita merasa sudah cukup punya keberanian untuk melakukan apa yang mereka lakukan? Mengejar remaja berandalan yang merebut dengan paksa Sang Saka dari genggaman kita? Juga menyobek sedikit ujung pakaian merah kita untuk mengganti tali bendera yang putus? Saya rasa saat ini kepala yang menggeleng jauh lebih banyak daripada yang mengangguk.

Sebenarnya semuanya hanya masalah cinta. Ya. Cinta. Cinta kita terhadap Republik ini. Dan seperti halnya yang harusnya berlaku dalam setiap cinta, bahwa subyek yang memberi cinta seharusnya sanggup menerima apa adanya apapun keadaan sang obyek, yang mungkin terlalu jauh dari kesempurnaan. Seperti halnya dengan Indonesia negeri kita ini. Saya sendiri mengakui, bahwa Indonesia memang teramat jauh dari apa yang disebuat sebagai kata sempurna. Pemerintahan Indonesia memang kurang berkualitas (untuk menghindari kata bobrok). Korupsi sudah menjadi budaya. Dan kaum proletar selalu saja menjadi yang terlantar. Tapi saya rasa hal itu tidaklah terlalu benar jika dijadikan sebagai sebuah alasan atas lunturnya rasa cinta kita kepada negeri ini ; jika memang kita benar-benar mencintainya tentu saja. Saya masih ingat sebuah kalimat yang pernah diucapkan salah seorang teman saya yang entah dia comot dari buku apa beberapa tahun yang lalu. Dia pernah mengatakan bahwa ‘Logika cinta itu tak pernah bisa dilogika’. Ya, meski sebenarnya saya enggan, tapi mau tak mau saya harus membenarkannya, karena kalau dipikir-pikir sepertinya hal itu memang tidak salah. Lihat saja hal-hal konyol yang mampu diperbuat oleh mereka sang manusia-manusia pecinta J. Anda tentu masih ingat dengan keberanian (atau kebodohan?) seorang Romeo yang ternyata sanggup mengiris nadinya ketika arsenik menghentikan nafas Juliet dengan paksa J. Lihat juga keanehan cinta yang diperlihatkan istri dari seorang lelaki yang (maaf), mempunyai cacat fisik atau menderita kelainan jiwa. Juga cinta buta seorang umat yang sanggup membunuh ribuan nyawa demi membela Sang Dia J. Dan sebenarnya, hal seperti inilah yang dibutuhkan negeri kita tercinta ini.

Negeri ini membutuhkan rakyat yang bisa memberikan dukungannya disaat segala kecarut-marutan menguasai segala aspek kehidupan. Dan satu hal lagi yang harus diingat, bahwa menerima sebuah keadaan secara apa adanya bukanlah berarti kita tak punya hak untuk merubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik. Sebuah kebohongan besar jika ada diantara kita yang beralasan bahwa kita tak punya cukup persediaan cinta untuk diberikan pada negeri yang kacau ini, sementara banyak diantara kita yang menyatakan kesanggupan untuk mati syahid demi rasa cintanya pada kemanusiaan (atau agama?).

Saya rasa persediaan cinta seorang manusia itu tak akan pernah bisa habis meski selalu dibagikan mulai saat baru terlahir ke dunia sampai waktu detik-detik nafas terakhirnya. Jadi kenapa kita selalu saja merasa terlalu berat untuk membagi sedikit cinta untuk negeri ini? Negeri yang membesarkan kita. Negeri yang terlahir di atas genangan darah dan linangan airmata pendahulu kita. Negeri yang dalam berita-berita TV-nya lebih banyak memperlihatkan kericuhan antara demonstran dengan aparat keamanan, peperangan antar golongan dan antar suku, bentrok antara Satpol PP yang arogan dan sok militer dengan para pedagang pasar, dan konflik-konflik lainnya yang menjadi bukti bahwa Indonesia ini bukan lagi mengalami kris-mon, melainkan kris-ta, bukan lagi krisis moneter melainkan krisis cinta. Rasa cinta tidaklah harus dinyatakan dengan sebuah pernyataan kesanggupan mengangkat senjata dan kerelaan kehilangan nyawa demi membela sang tercinta. Tapi sudah lebih dari cukup meski hanya dituangkan dalam sebuah pengambilan sikap pribadi dalam kehidupan, atau mungkin dituangkan dalam sebuah karya, seperti halnya yang dilakukan Nan Achnas dengan Bendera-nya.

Saya jadi teringat apa yang pernah diungkapkan oleh salah seorang teman saya dalam sebuah tulisannya. Dia menyatakan keinginannya yang menggebu untuk segera meninggalkan Republik ini lalu migrasi ke Republik Mimpi-nya Si Butet Yogya, karena didasari rasa muaknya terhadap segala kecarut-marutan yang terjadi di Republik kita ini. Ya.., menurut saya hal itu sah-sah saja untuk dilakukan. Toh saya rasa Bangsa Indonesia sendiri juga tidak membutuhkan manusia-manusia yang seperti dia. Menginginkan kesempurnaan tanpa pernah bisa memberikan apa-apa. Sekedar berontak tanpa pernah berusaha memberi solusi.

Dirgahayu Indonesia ke-62.

0 komentar:

Posting Komentar