Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Bunga


; Fiksi tentang Perempuan Ndamar Kanginan Nanggal Sepisan




Sebut saja namanya Bunga. Perempuan bermata lentera. Dengan sepasang bulan sabit bertengger di atasnya. Di dirinya. Aku temukan tawa. Yang lama tak sua.

Sumpah mati. Pertemuan kami adalah bukti. Gusti Pangeran Maha Segala. Termasuk Maha Gila. Gokil abis, bahasa MTV-nya.

Siang itu biasa saja. Awan bergerak lunak. Berarak pinak. Tiada gerimis. Meski sekedar riwis. Tapi badai terlalu jauh untuk dikata usai. Selesai. Ombak masih menggelegak. Petir kirim anyir. Jutaan semut api sengat hati. Ada airmata di sana. Warna merah saga. Serupa darah renta.

Di situlah kami berjumpa. Bicara bicara bicara... Kata kata kata... Dan mau tak mau, aku dipaksa tertawa. ’Gila!!’, umpatku tak kunjung reda. Menyadari tawa yang ada setelah berpisah lama.

Aku hidup di dua dunia..’, katanya suatu malam. Ketika sekumpulang bintang remang berenang-renang. Tertawa riang. Dengan bersemangat dia mulai cerita. Tentang kawan-kawannya. Kuntilanak, genderuwo, pocong, sadako, dan makhluk-makhluk sejenisnya.
Jangan-jangan kau kenal tuyul juga?’, aku mulai menggila. Dia tak mempedulikannya.
Mereka bukan sesuatu yang asing dalam hidupku’, katanya.
Seperti halnya dirimu bagiku’, sebagian dari hati tiba-tiba bersuara. Entah atas dasar apa. ‘Mungkinkah reinkarnasi adalah sesuatu yang nyata?’, pertanyaan tolol menggema di dada.
Jangan-jangan di kehidupan sebelumnya kami adalah sepasang yin yang? Rama - Sinta? Roro Mendut - Pronocitro? Romeo – Juliet? Nabi Muhammad – Siti Khadijah? Julius Caesar – Cleopatra? Donald - Desy?’, aku mulai menjadi konyol. Tolol.

Sudahlah... Cepatlah kau miliki...’, seorang kawan memaki. Dan aku hanya tertawa. Cinta tak sama dan jauh beda dengan politik tai kuda. Yang hanya bicara tentang bagaimana cara menguasai. ‘Ini masalah memberi...

Sebut saja namanya Bunga. Perempuan bermata lentera. Dengan sepasang bulan sabit bertengger di atasnya. Di dirinya. Aku temukan tawa. Yang lama tak sua. Itu saja.



***



Utan Kayu, 19 April 2010
(Ditulis bersama Plain White T’s yang berhitung 1,2,3,4... spesial untuk bulan sabit malam ini... Hallah…, LEBAY!!! :)


0 komentar:

Posting Komentar