Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Baik-Baik Saja (?)

21.00-03.00. Seminggu belakangan ini saya sangat membenci waktu-waktu itu. Waktu di mana saya terdiam menghadap layar komputer. Sederet playlist di music player. Sementara jendela Mozilla Firefox tampilkan acount email yang jarang terisi email-email baru, acount Facebook yang berisi update status 2 orang kawan, blog pribadi yang belakangan berisi tulisan-tulisan lucu bin kemplu, kotak percakapan Yahoo Messenger yang semakin malam semakin sepi, dan http://looklet.com di mana saya bisa bebas sebebas-bebasnya memilah milih pakaian buat mbak-mbak model yang tidak pernah sekalipun protes dengan t-shirt atau bahkan jeroan wagu pilihan saya. Begitulah. 21.00-03.00. Sementara orang lain mungkin meringkuk dengan mimpi indahnya atau sebagian lagi lelap di ketiak istri dan anak-anaknya, saya memilih menyibukkan diri mencari-cari BH yang cocok untuk seorang model anonim berambut merah bermata sipit. Konyol memang. Tapi sudahlah, bukankah hidup sendiri sebenarnya hanyalah rangkaian ke-superkonyol-an? :D

Saya mengenal permainan ini beberapa waktu yang lalu. Melalui seorang kawan. Sebuah permainan yang seketika melempar memori saya ke masa lalu. Waktu saya SD dulu, marak mainan model-modelan dari kertas yang bisa dibongkar pasang. Ketika itu mainan jenis ini sering dijual di luar pagar sekolahan. Tak jarang dijual bersama sticker gambar Rambo dan juga sticker burung rajawali yang mencengkeram tulisan Highway Patrol di bawahnya. Sementara di sebelahnya, belasan gamewatch yang disatukan tali rafia warna merah muda berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Termasuk tangan saya. Ketika itu saya lebih suka membeli stiker tato gambar naga daripada model kertas bongkar pasang tadi. Tapi ternyata setelah saya tua seperti sekarang ini, saya baru menyadari kenikmatan memilihkan bra dan celana untuk lawan jenis. Di Looklet tentu saja. :D

'Jangan-jangan ketika SD dulu kamu suka bermain model-modelan kertas itu?', seorang kawan curiga. Seingat saya, saya memang pernah bermain permainan itu. Tapi saya pikir masih cukup wajarlah untuk bisa disebut laki-laki normal. Toh saat ini boneka yang saya miliki pun juga bukan barbie, melainkan boneka berbentuk macan dan kura-kura. Inipun yang membelikan ibu saya. Ketika wisuda (Jujur, saya masih tak habis pikir dengan 'hadiah' yang satu ini???? :)
'Trus kenapa sekarang kamu suka mainan itu?', kawan yang lain. Entahlah, saya hanya bosan dengan permainan yang hanya bicara soal menang atau kalah. Game kok kompetisi melulu. Kalau ga menang ya kalah. Terus di mana posisi orang yang ingin biasa-biasa saja. Tidak ingin menang, tidak ingin kalah, dan tidak ingin bertanding? Kawan saya diam. Mungkin mencerna kalimat saya. Dan dalam hati saya tertawa, mengingat kalimat yang saya lontarkan justru lebih mirip kalimat orang yang lelah karena selalu kalah ketimbang alasan rasional yang keluar dari manusia normal. :p

'Baiklah, saya memang sedang tidak baik-baik saja', saya mengaku.
'Tapi kemarin kau bilang kau bahagia?'.
'Saya bohong. Mungkin. Saya tidak tahu. Belakangan saya kesulitan mendefinisikan apa yang saya rasakan. Saya selalu curiga. Saya bahkan tidak tahu apa yang saya mau'.
'Tapi kamu bahagia kan?'
'Hmmmmm..... jika orang yang tiap dinihari berpikir tentang belati adalah orang yang bahagia, maka saya adalah orang yang sangat berbahagia. Jika orang yang semua tidurnya dipenuhi mimpi monoton bertema sama adalah orang yang berbahagia, maka saya adalah orang yang luar biasa bahagia. Jika orang yang waktu luangnya seringkali diisi dengan menonton film-film konyol semacam Meet The Spartans, Mr. Bean's Holiday, Date Movie, Scary Movie, dan semacamnya adalah orang yang berbahagia, maka saya adalah orang yang sempurna kebahagiaannya. Dan jika orang yang tiap malamnya bersibuk ria dengan baju, rok, jeans, dan model virtual adalah manusia yang super bahagia, maka saya adalah satu di antaranya.'

Depresi, saya ketikkan kata itu di google. Saya menemu artikel singkat di Wikipedia. Dan saya malah bertanya-tanya, apakah tadi kata depresi atau nama saya sendiri yang saya masukkan di mesin pencari? Identik!!! Semua!!!
'Apa yang harus dilakukan seseorang yang depresi?' , saya mencoba berkonsultasi.
'Lompat dari lantai empat saja.. '. Sumpah mati, saya tak habis pikir dengan pola pikir psikolog kecil yang satu ini. Saya mencari jalan untuk bisa terus bertahan hidup, sementara dia tak berhenti memanas-manasi saya untuk secepatnya mati. Tapi sudahlah, saya tak perlu sakit hati. Toh kemungkinan dia juga bukan satu-satunya orang yang menganggap kematian saya adalah sebuah bahan lawakan. Mungkin... :D



***



Utan Kayu, 25 Maret 2010

1 komentar:

  1. L mengatakan...
     

    oo,, jadi begitu kenapa kemarin-kemarin minta orang jadi ahli waris sama dimasukkan kontak darurat? gara2 looklet toh.. :berusaha melihat hal yang cute-cute saja:

Posting Komentar