Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Prolog

(Sayup Suara Papua; 1)


Suatu siang. Utan kayu 68H. Lantai tiga. Meeting tak penting.
‘Kamu. Berangkat ke Yahukimo?’.
Njenggirat. ‘Dengan siapa?’.
Ada tawa, ‘Sendiri laahh…’.
Telan ludah. Tercenung.
‘Ada 1 kawan lagi yang akan melakukan riset…’
Anggukan.


Itulah pada awalnya. Sebuah tawaran yang mengantarkan kaki saya menginjak bumi Papua. Memang, tak sesuci misi para misionaris. Namun tak pula sekotor niat penjajah Portugis. Saya hanya diberi tugas sederhana. Membuat film dokumenter tentang dampak Radio Pikon Ane terhadap masyarakat di sana. Sederhana bukan? Terlalu sederhana untuk tidak dilakukan sendiri bukan???

Pikon Ane adalah salah satu dari sekian entah jaringan radio dari perusahaan tempat saya menjadi buruh. Radio ini sendiri berada di Kampung Anyelma, Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, Papua. Perjalanan dari Jakarta ditempuh dengan 8 jam penerbangan menuju Jayapura, kemudian dilanjutkan 45 menit penerbangan Jayapura-Wamena, sewa mobil (atau taxi, orang Papua menyebutnya) sampai ke sungai Yetni di lembah Baliem, berjalan kaki menyeberangi arus Yetni, dan kemudian dilanjutkan ojek sepeda motor menuju Anyelma.

Sedari awal saya paham. Ini akan menjadi perjalanan spiritual pribadi. Saya keburu yakin, apa yang nantinya saya dapatkan pasti jauh lebih besar dari sekedar film dokumenter berdurasi 15 menit. Saya yakin itu. Dan seperti halnya sedikit keyakinan-keyakinan saya terdahulu, keyakinan saya kali ini pun tak begitu melenceng dari kenyataan. Saya mendapat banyak hal. Terlalu banyak bahkan. Hingga otak yang saya akui tak cukup besar ini; yang belakangan seringkali saya manjakan dengan syair ninabobo yang dinyanyikan dengan nada dasar c minor (harus minor, biar syahdu), untuk selanjutnya saya bopong ke ranjang empuk yang terletak di ujung ruang, jauh dari perpustakaan, jauh dari kotak bangsat bernama televisi, agar tidur siangnya tak diganggu rekaman suara anggodo, kasus century tai, dan juga perang antar kandang kebun binatang dimana batalyon cicak memukul telak pasukan buaya; mau tak mau terpaksa (kembali) bekerja keras.

Saya belajar untuk tidak terlalu egois. Karena itu saya menulis. Beberapa waktu lalu, tanah Papua titipkan berkarung-karung salam pada saya. Untuk semua. Banyak cerita dari mereka yang selama ini tak cukup punya daya untuk bersuara. Lirih. Mendekati bungkam. Nyaris diam. “Papua itu makanan apa?’, demikian tanya seseorang di tengah-tengah aksi demonstrasi menentang klaim budaya oleh Malaysia.

Karena itulah, untuk beberapa waktu ke depan saya akan mencoba melakukan prosesi penyampaian salam. Tanpa kembang setaman. Cukup dengan tulisan. Harap maklum jika nantinya terkesan serampangan tak beraturan. Karena bagaimanapun, ini bukan jurnal perjalanan. Apakah kumpulan coretan ini nantinya adalah papua itu sendiri? Sama sekali bukan. Ini murni interpretasi. Sekedar cerita versi saya. Tulisan tentang segala sesuatu yang menarik minat ketika di dan setelah pulang dari sana. Ada bumbu yang diramu, hiperbola, kadang metafora. Yang berminat silahkan buka mata. Juga telinga. Ada sayup suara Papua.



(…bersambung ke sini…)

4 komentar:

  1. Joell mengatakan...
     

    Wah..wah..Dik Tyo si pemuda ndesit dari pelosok Sragen ini ternyata sudah menasional, teruskan perjuanganmu kisanak..tak tunggu cerito2 selanjutnya..

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ Joell: mohon maaf mas panjol, saya asli karanganyar tenteram.. bukan sragen... he2...

  3. haris mengatakan...
     

    sip mas andik. perjalanannya semoga menarik.

  4. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ haris: wallah.. bukan semoga lagi.. memang sudah menarik.. cuma bawa sedikit oleh2 di http://lintanglanang.blogspot.com.. :)

Posting Komentar