Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Menjadi Pragmatis (?)

;Utan Kayu Suatu Pagi


Pragmatisme

Persetan dengan Lekra, Imperialisme, Utan Kayu, Goenawan Muhammad, Ulil Absar Abdalla. Isih pengen urip ra??!!’. Demikian bunyi pesan singkat yang dikirim salah seorang kawan saya beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya saya memang mengiriminya sepenggal sms main-main, ‘Bayangkanlah suatu pagi dimana seorang pekerja teater yang tertarik dengan perjuangan Lekra yang berbasis kerakyatan, sedang duduk-duduk di kedai Utan Kayu. Suatu tempat yang konon markas besar seni imperialisme.’ (Catatan: kedatangan sang pekerja teater di tempat ini adalah demi sebuah wawancara kerja :).

Sekilas kalimat kawan saya tersebut memang terdengar seperti kata-kata kaum pragmatis. Fuck off idealism! Tapi dalam kalimat berikutnya, kawan saya membantah, ‘Bukannya pragmatis, tapi realis’. Sekedar apologi? Mungkin saja. Namun mungkin juga tidak. Hidup di Indonesia (atau mungkin juga di dunia?), sikap pragmatis dan realis dalam menyikapi idealisme kadang-kadang memang agak sulit untuk dibedakan (atau karena memang tidak berbeda sama sekali??)

Pragmatisme adalah filsafat yang mementingkan hal-hal praktis yang kriteria utamanya adalah sukses. Menurut John Dewey, pragmatic berarti peraturan berpikir reflektif yang tujuan akhirnya adalah hasil. Istilah itu diambil oleh C.S Peirce dari Kant untuk menunjukkan konsekuensi empiris, dan acuannya pada sifat praktis adalah untuk menghindari perdebatan verbal. Filsafat pragmatisme lahir di Amerika dan ditumbuhkan oleh William James (1842-1910) melalui buku Pragmatism. Sementara secara etimologis, pragmatisme berasal dari bahasa latin pragmaticus (praktis, aktif, sibuk); bahasa Yunani pragma (bisnis).


Idealisme

Beberapa puluh tahun yang lampau, Sunarti Rendra (mantan istri W.S Rendra) berkata kepada suaminya, ‘Tidak ada kesempatan beridealisme di Indonesia’ (Rendra Berkisan Tentang Teaternya; Majalah FOKUS 6 Januari 1983 Hal. 41-43). Kalimat tersebut diucapkan Sunarti sebelum Rendra pulang ke Indonesia sehabis nyantrik selama 3,5 tahun di American Academy of Dramatic Arts di New Yorks. Sebelum pulang, Rendra diminta bersumpah oleh istrinya untuk tidak lagi membuat kelompok teater. Bukan karena Sunarti tak mencintai suaminya (berikut dunia sang suami). Sunarti hanya tak ingin di kemudian hari muncul (lagi) orang-orang Lekra yang memberikan surat ancaman. Dengan kata lain, sumpah yang diminta Sunarti ini justru menunjukkan cinta dan perhatiannya terhadap Rendra, dan sama sekali bukan didasari sikap pragmatis.

Lain Sunarti, lain Prie GS. Dalam sebuah percakapan sekitar setahun yang lalu, dengan lugas dan jelas Mas Prie berkata, ‘Idealisme yang berjauhan dengan uang itu idealisme yang bodoh’. Gubrak!! Sesaat kalimat itu sempat membuat saya terbungkam. Bodoh? Apa benar? Apakah segala sesuatu itu harus dinilai dengan pundi-pundi rupiah? Bahkan termasuk kebahagiaan? Tanya (hati) saya (ketika itu).

Ya, berbicara mengenai idealisme tentu akan menghabiskan waktu yang tak sedikit (dan mungkin akan lebih menarik jika dilakukan di suatu malam yang gerimis dengan ditemani berkaleng-kaleng Bintang dingin berikut batang-batang Djarum Super di mana Jason Mraz sayup lantunkan Make it Mine :). Bukan sebuah rahasia, bahwa dalam hidup ada dua hal yang menuntut harus diberi makan. Perut dan hati. Mungkin akan menjadi sesuatu yang mudah dan bukan masalah ketika prosesi pemberian makan dua hal yang berbeda ini bisa dilakukan sekaligus. Dimana makanan hati ternyata juga mampu mengenyangkan perut. Tapi kadang (dan seringkali) hidup tak semudah itu. Apa yang membuat hati kenyang lebih sering tak bisa sekaligus memuaskan perut. Pun demikian juga sebaliknya.

Tentu saja saya tak akan mencoba menjadi nabi yang akan memberikan bocoran jalan tentang apa yang harus kita prioritaskan ketika hal itu terjadi. Selain memang karena tak tahu :), saya merasa hal semacam ini adalah sesuatu yang amat sangat subyektif. Adalah hak masing-masing dari kita, apakah kita akan memprioritaskan perut dengan mengesampingkan hati yang lapar, atau justru sebaliknya (atau bahkan mencoba mencari jalan untuk memenuhi keduanya). Saya yakin, masing-masing dari kita sudah cukup dewasa untuk memikirkan semua resiko atas keputusan-keputusan yang kita ambil. Pun demikian juga ketika ada di antara kita yang lebih memilih untuk beridealis ria, meski dengan resiko lapar dan kelaparan. Sekali lagi, semua itu sah-sah saja.


Kebahagiaan

Hidup itu mudah, jangan dipersulit...’, kata Atmo, seorang kawan satu kos saya, di suatu pagi yang mendung sambil mendengarkan Jayanti Mandasari yang melantunkan Puncak Bukit Hijau sambil membaca Sufisme Syeh Siti Jenar-nya Muhammad Solikhin. Ya, mudah sulitnya kehidupan memang tergantung dari sudut pandang mana kita menatap. Bagi saya, kebahagiaan manusia sebenarnya bisa didapat hanya dengan melakukan dua hal. Pertama, memahami apa yang sebenarnya diinginkan. Jika sudah, baru melakukan langkah berikutnya. Yaitu mencari jalan untuk mewujudkan apa yang diinginkan tersebut. Namun bagaimanapun tak dapat disangkal, menentukan apa yang diinginkan bukanlah sesuatu yang mudah. Karena tak jarang dalam suatu waktu tiap-tiap individu menginginkan banyak hal sekaligus. Di mana antara satu keinginan dengan keinginan yang lain menimbulkan akibat yang saling bertolak belakang. Dalam hal ini skala prioritas-lah yang menuntut harus digunakan. Karena bagaimanapun, memilih terkadang berarti membunuh sebagian dari diri kita. Sementara dalam proses pencarian jalan untuk mewujudkan apa yang diinginkan, nurani dan logika-pun mempunyai peran penting untuk menghindarkan kita dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kebaikan universal yang mungkin akan merugikan pihak lain.

Karena itu sekali lagi, mau idealis, mau pragmatis (termasuk dengan topeng realis), semuanya sah-sah saja untuk dilakukan. Hanya mungkin menurut saya ada satu poin yang terpenting, jangan pernah (mencoba/bertahan) menjadi parasit. Dengan begini, tak ada seorangpun yang akan turut menderita dengan keputusan kita. Adalah sebuah dosa ketika kita mengajak orang lain untuk merasakan kelaparan yang sama (kecuali melalui kesepakatan). Manusia semacam ini tak lebih dari parasit yang hanya bisa menghisap kepuasan tanpa bisa memberikan imbalan. Karena itulah, meski dengan resiko diberi cap pragmatis, suatu waktu saya tak akan sungkan turut serta dalam barisan karnaval akbar yang menari-nari dengan gerakan liar sambil meneriakkan puja-puji, ‘Life is bigger than idealism!!!’.



Bahan bacaan:
Edi Haryono (Editor), 2000, Rendra dan Teater Modern Indonesia; Yogyakarta: Kepel Press
Haniah, 2001, Agama Pragmatis (Telaah atas Konsepsi Agama John Dewey); Magelang: Indonesiatera
Indra Tranggono, ‘Terbunuhnya’ Kultur Tatap Muka; Harian Kompas 29 Maret 2009
John Dewey, 1916, Essays in Experimental Logic, Chicago: The University of Chicago Press

0 komentar:

Posting Komentar