Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

dan....

: naskah yang tak pernah selesai

Suatu pagi musim semi di pendopo Astana Tresna. Melati merekah di halaman. Sisa gerimis melekat di rerumput hijau pekat. ‘Cupid…’, Aphrodite mendesah lembut. ‘Injjih Ibunda Ratu…’, jawab Cupid yang bersimpuh di atas permadani ungu muda di depan singgasana. ‘Kau tahu kenapa kau kupanggil kesini?’, Semerbak wangi surga memenuhi udara pendopo Astana ketika Aphrodite berdiri dari duduknya dan berkata. ‘Tentu saja Ibunda….’, Jawab Cupid, ‘Kali ini siapa manusia yang beruntung karena harus mendapatkan luka dari anak panah hamba?

Burung gereja bercicit-cuit di dahan cemara. Jari-jari Aphrodite bergerak lembut mencari sesobek kertas kecil yang diselipkan di balik BH merah mudanya, dan dia mulai membaca, ‘Jingga.., seorang perempuan 20 tahun yang tinggal di bumi Jawa... Ini alamatnya’, tangan Aphrodite memberikan sobekan kertas yang semula dipegangnya. Cupid menerima dengan khidmat, lalu membaca aksara di atasnya. ‘Anak panahmu harus menancap tepat di dadanya sore ini juga. Pengorbanan Jiwa, laki-laki yang kau panah setahun yang lalu sudah cukup untuk mendapatkan sebuah kepastian. Ingat, sore ini juga! Karena kudengar, besok siang Izrail akan menjemput Jiwa. Dan aku tidak ingin laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya tanpa mendapatkan kepastian …’. Cupid membalas tatapan mata ibunya penuh makna, ‘Sendiko dawuh Ibunda tercinta..’.

Aphrodite lalu menyerahkan sebatang anak panah perak berukir hati yang dibungkus selembar beludru ungu, ‘Ini anak panah yang harus kau tancapkan di dada Jingga. Tadi malam ujungnya sudah kuoles dengan setetes darah laki-laki itu. Ingat, jangan sampai salah orang! Sekarang juga laksanakan!’'. Cupid-pun menerima anak panah itu, lalu secepat kilat mengepakkan sayapnya melesat menembus gumpalan-gumpalan awan putih, melewati ribuan kenari yang terbang tinggi, untuk mengantarkan sebuah hadiah (sekaligus musibah) bagi seorang anak manusia bernama Jingga.

***

Jadi ini yang namanya Jingga?’, bisik Cupid dalam hati sambil menatap seorang gadis yang duduk membelakanginya di sebuah sudut kamar biru muda. Cupid-pun terbang mengitari kamar seluas 3x4 meter itu. Ratusan… atau bahkan ribuan burung-burung kertas putih tergantung di langit-langit kamar. Beberapa kali Cupid harus melepaskan diri ketika benang-benang yang menggantung burung-burung itu menjerat sayap atau kaki-kaki kecilnya.

Gadis itu masih membenamkan wajahnya di meja belajar ketika Cupid mendarat pelan di atas ranjang tidur bergambar bulan sabit warna biru. Lalu tanpa berkata-kata, Cupid mulai membuka beludru ungu dan mengeluarkan anak panah yang sedari tadi digendong di pundaknya.

Akan kulaksanakan tugasku…’, bisik Cupid setelah selesai memasang anak panah di warangka-nya dan mulai membidik Jingga. Cupid menahan nafas. Wajahnya mengeras. Dia mulai berhitung…. Satu… dua… dan…. Tiba-tiba Jingga mengangkat kepalanya. Cupid terkesiap dan cepat-cepat mengurungkan niatnya. Setetes airmata Jingga luruh membasahi kertas putih kosong di atas meja.

Kenapa kau menangis?!’, Cupid kesal, ‘Aku tak mungkin melukaimu jika kau menangis. Sekarang sudah tak jaman cinta datang dalam kesedihan!!’. Jingga membisu. Bukan tak peduli, tapi memang karena bahasa mereka yang berbeda warna. Sedu sedan terpendam. Hujan di pipi tak henti mencipta sejuta aksara rahasia bagi yang membacanya. Cupid sadar, dia tak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu. Lalu dia bersandar pada sebuah botol kecil berisi pil-pil beraneka warna (entah obat apa). Dia hanya bisa diam. Menunggu.

***

Titik-titik embun masih belum beranjak dari kulit-kulit rumput ketika Cupid menghadap Aphrodite keesokan harinya di taman Astana. ‘Bagaimana anakku? Sudah kau laksanakan tugasmu?’, Aroma surga kembali terbaca. Aphrodite pagi itu mengenakan gaun merah muda yang ujungnya menyentuh permukaan tanah, hingga semut-semut hitam di bawahnya berdansa gembira karena bisa mengupas semua rahasia di dalamnya.

Cupid hanya diam di hadapan ibundanya sambil menatap sepasang kenari yang menari-nari di pucuk kamboja. ‘Kenapa diam anakku?’, lanjut Aphrodite sambil beranjak dari kursi taman yang tadi menopangnya. Cupid menghela nafas, lalu berkata dengan pelan, ‘Maafkan ananda, Ibunda… Hamba tidak bisa melaksanakan tugas itu..’. Aprodite mendesah, ‘Kenapa, ada yang salah dengan panah barumu?’’.

Tidak Ibunda…’, tukas Cupid, ‘Hanya saja kemarin ketika hamba hendak memanah Jingga, dia sedang menangis. Ibunda tahu sendiri, hamba tidak mungkin melukai manusia yang sedang menangis. Pertama hamba menunggu dia kehabisan airmata, tapi lama-lama dalam tiap-tiap tetes airmatanya hamba membaca sepenggal cerita purba, sebuah sajak tentang kesendirian, keterasingan, dan pemberontakan…’, Cupid menghela nafas sekali lagi, sebelum akhirnya melanjutkan, ‘Maafkan Ananda Ibunda… hamba tidak sanggup melakukannya.’

Aphrodite hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela nafas mendengar penuturan putra tunggalnya. Cupid lalu membuka lipatan beludru ungu dan mengeluarkan anak panah perak yang berkilau-kilau memantulkan cahaya matahari. ‘Baiklah…’, Aphrodite akhirnya menemukan lagi suaranya, ‘Sekarang kembalikan anak panah itu, biarkan saja Jiwa mati tanpa cinta…’.

Tidak Ibunda..’, tukas Cupid cepat, ‘Hamba tidak akan mengembalikannya’. Aphrodite terkejut. Cupid melanjutkan, ‘Kemarin ujung anak panah ini telah hamba celupkan pada setetes airmata Jingga…., dan maafkan hamba Ibunda…., sekarang hamba menginginkannya.

Belum sempat Aphrodite mengatasi rasa kagetnya, Cupid sudah menggoreskan ujung anak panah itu ke pergelangan tangannya sendiri. Darah muncrat dari seutas nadi yang terpenggal. Seketika itu juga langit di atas astana menghitam, petir-petir menyalak riang. Darah yang bercumbu dengan airmata itu mulai bergumul, membelit, meremas, menggigit, menjilat…….

Cupid hanya tersenyum ketika Aphrodite membelalak pasrah. Dan langit menangis.

***

Hujan yang mengguyur bumi tak cukup tangguh untuk memaksa Jingga beranjak dari samping gundukan tanah itu. Dia tak peduli meski percikan-percikan lumpur membentuk peta-peta dunia baru di permukaan gaun hitamnya. Gemericik air dan suara petir tak sanggup mengisi kekosongan dan kebisuan dalam ruang-ruang sempit di lorong hati. Hanya ada gema tangis Jingga yang teredam hujan, dan tetes-tetes airmatanya yang luruh membasahi pipi, tangan, kaki, gaun, nisan, tanah, kerikil... mengalir bersama hujan melewati parit-parit, selokan-selokan, sungai-sungai… yang mungkin akan menuju lautan. Tapi semuanya sudah terlambat…

Semua sudah terlambat.


* ilustrasi diambil dari sini

4 komentar:

  1. ipung mengatakan...
     

    Sang Lintang Lanang memang luar biasa...
    Karya2 nya membuat saya jatuh hati. Hehe..
    Jangan biarkan idemu mati!

  2. sang lintang lanang mengatakan...
     

    @ ipung:
    wallah.. jatuh hati? :)
    terima kasih mas..
    salam hangat selalu..

  3. haris mengatakan...
     

    sy kayaknya pernah jg dengar ato baca cupid yang jatuh cinta pada perempuan yang hendak dipanahnya. lupa di mana. pasti ini menyambut hari valentine ya? suit2. kbrmu piye, mas andik?

  4. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    memang ada ya? saya malah kurang tahu.. menyambut valentine? he3.. kebetulan aja.. ni sebenernya cerpen lama.. cuma baru diposting sekarang...

Posting Komentar