Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Kita Membincang Waktu

Adakah di sana hujan? Di sini gerimis meriwis sejak malam. ‘Mungkin karena masih suasana tahun baru…’, desahmu di speaker telepon beberapa menit yang lalu. Dan aku hanya tersenyum. Tahun baru? Absurd. Apanya yang baru? Bukankah segala sesuatu di dunia ini sebenarnya adalah sesuatu yang lama (dan bahkan biasa-biasa saja)? Termasuk di antaranya detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, abad, dan lain sebagainya yang hanya hasil karya kinerja otak manusia.

Waktu mungkin memang berjalan. Atau mungkin melaju, jika para penyair mengatakan. Tapi bukankah hanya sebatas itu? Di mana tak ada satupun hal yang benar-benar punya kewenangan untuk menganalisanya apalagi menjustifikasinya dengan kata-kata (atau jangan-jangan justru semua pihak mempunyai wewenang?).

Andai aku berpikir dengan pola pikir para pejuang Zapatista, tentu aku akan dengan nyinyir menanggapi ucapan selamat tahun baru yang kemarin lalu memenuh kotak masuk telepon genggamku. Kenapa? Karena aku orang Jawa. Dan karena itu, tahun baruku bukan satu Januari lalu. Fuck off globalisasi, mungkun akan kuteriakkan itu. Tapi aku tak melakukannya. Kenapa? Bukan karena aku menolak ke-jawa-anku atau aku menganggap salah cara pandang para Zapatista. Sama sekali bukan. Aku hanya terlalu enggan memikirkan sesuatu yang demikian remeh. Aku lelah. Dan kau tahu itu. Karena itulah aku lebih memilih bungkam daripada mengkampanyekan perjuangan hak pribadiku untuk tak merayakan tahun (yang banyak pihak mengatakan) baru itu.

Tak sadarkah kau, bahwa siapapun makhluk di dunia ini sebenarnya punya cara pandang dan pola pikir sendiri-sendiri. Semua pihak berhak punya penanggalan sendiri-sendiri. Karena itulah kita mengenal tahun saka, tahun hijriah, tahun masehi, imlek, syawal, suro, dan sebagainya?

Bahkan isu mileniarisme yang termaktub dalam satu kitab tuhan itupun sampai sekarang tidak (atau belum?) terbukti. Dan andaikan memang belum, hal itu kukira sudah cukup memberi bukti bahwa seribu tahun yang tertulis di kitab itu tidaklah sama dengan seribu tahun yang hitung bersama-sama. Bukankah sekarang sudah 2009 dan dunia masih belum hancur sampai sekarang? Padahal kitab itu mengatakan, bahwa kehancuran pasti akan datang setelah seribu tahun menjelang. Atau jangan-jangan kita semua salah mengawali hitungan? Entahlah. Aku malas memikirkannya. Aku lelah, kau tahu itu. Sama sepertimu. Bahkan setelah sekian lama, langkah kita pun hanya berhasil membawa diri kita bergerak sepanjang nol koma nol nol nol nol nol nol nol nol nol sekian millimeter. Bisa dikatakan, kita belum bergerak. Kita masih tak beranjak.

Aku lelah. Adakah di sana hujan? Di sini gerimis meriwis sejak malam.


*Gambar diambil dari sini

11 komentar:

  1. cerita senja mengatakan...
     

    bagi saya tahun ini baru dan tak biasabiasa saja. kontrak selesai,tak punya duit kembali, kalender diganti dan umur saya tak lagi di angka kembar


    oh ya, disini juga gerimis...hehe

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ cerita senja:
    ya ya ya... berarti sekarang sudah 34 tahun? he3...

  3. Doa di Putik Kamboja mengatakan...
     

    dan tak ada yang baru. detik, menit, jam Ini yang baru. detik, menit, jam Nanti adalah misteri. yang berlalu adalah sejarah.
    hal yang di anggap remeh temeh itu biar sajalah. mereka pun akan menyadari itu, atau setidaknya sedikit hiburan untuk berlupa pada hidup yang terus menua.

    perayaan lakukanlah setiap saat karena itulah hadiah dari waktu yang melaju.
    selamat anda telah merayakan waktu ini dengan caramu sendiri menangkap waktu dan perilaku sosial masyarakat, walau harus ditemani gerimis yang riwis sampai malam.

    aku merayakan waktu yang terus berjalan dengan kebasahan dari ungaran sampai semarang gara-gara kehujanan.

  4. sang lintang lanang mengatakan...
     

    @ doa di putik kamboja:
    'aku merayakan waktu yang terus berjalan dengan kebasahan dari ungaran sampai semarang gara-gara kehujanan.' he3.. menarik kayaknya...

  5. Doa di Putik Kamboja mengatakan...
     

    masuk angin dadine! malah menarik piye to?

  6. Haris Firdaus mengatakan...
     

    mas, waktu itu justru selalu baru. tidak ada yang sama di dalamnya. karena dia adalah proses yang terus menjadi.

    perayaan tahun baru diadakan karena manusia menghayati waktu2 tertentu sebagai momen yang bs membuat mereka lebih bs melakukan refleksi...

    begitu yg sy tahu

  7. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ haris firdaus:
    '....mas, waktu itu justru selalu baru....'

    entahlah mas, mungkin memang 'lama'.. mungkin juga memang 'baru'.. namun yang pasti, saya lelah... :)

  8. negeri hujan mengatakan...
     

    hah, meski kutemukan waktu tidaklah serupa kenangan atau kebiasaan yang senantiasa berlanjut. aku mengenalmu dengan segala percakapan yang renta. "salam kenal"

    aku hendak membikin waktu serupa biji kacang yang kerap ku makan pagi-pagi atau malam hari. tapi...aku tak pernah berfikir bahwa perjalannku ditumbuhi ilalang yang bertanduk bahkan menusuk tapakmu. ah...tak ada rasa sakit, hanya saja sebuah kekeliruan dalam mengumpat sesuatu. kau tau?

    mas galih, aku biasa membuat semacam teka-teki yang tak selesai.
    mungkin denganmu ku hanya melewati sederet pintu yang busuk dan aku merasa senang menghirupnya jadi jendela yang bertubi-tubi dalam ingatanku. ada yang perlu ku kembalikan meski kau tak pernah merasa memberikan apapun terhadapku.(Urbanaik Khumaida)

  9. Doa di Putik Kamboja mengatakan...
     

    aih,.. negeri hujan. kembalikanlah kalau kau memang merasa berhutang. walau sebenarnya kau mungkin tak pernah berhutang.
    aku pun hendak melinasinya denganmu. mungkin kau juga tak pernah merasa memberikan piutang kepadaku.

    mas lintang sori ya. nunut njagong. hehe2x

  10. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ negeri hujan & doa di putik kamboja:

    terima kasih3.. silahkan bercakap sepuas2nya... seperti Subcomandante Marcos katakan, biarkan kata-kata mendapatkan peluangnya.

  11. negeri hujan mengatakan...
     

    halo! ada jerawat di matamu!

Posting Komentar