Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Perubahan Itu Perlu?

Perubahan itu perlu, demikian tertulis di pamflet kampanye seorang calon Presiden BEM fakultas yang tertempel di sebuah papan pengumuman di (bekas) kampus saya. Ya, perubahan memang perlu. Terlebih lagi adalah sebuah perubahan menuju sesuatu yang lebih baik. Namun seperti halnya kata sifat yang lain, kebaikan dan ketidakbaikan adalah sesuatu yang tidak mempunyai standarisasi. Alih-alih sesuatu yang absolut, kebaikan dan ketidakbaikan justru sesuatu yang amat sangat subyektif dan relatif. Tergantung dari siapa subyek yang memandangnya, dari sudut pandang mana menatapnya, dan dasar apa yang digunakan ketika menilainya.

Setelah sekian lama tidak berbincang secara langsung, pada Kamis (30/10) lalu saya dan kawan saya berkesempatan menghabiskan malam dengan saling mengumbar kata-kata. Tentang rencana, masa, nostalgia, dan juga tentang kabar terbaru kawan-kawan kami yang lainnya. ‘Sekarang sudah benar-benar beda’, demikian ungkap calon sarjana yang satu ini ketika kami membincang tentang dua (mantan?) kawan dekat kami.

Semasa kuliah, bisa dibilang kedekatan antara saya pribadi dengan dua kawan kami ini (sebut saja si A dan si B) agak lebih jika dibanding dengan kedekatan antara saya dan kawan-kawan yang lainnya. Si A adalah seorang kawan wanita yang sekaligus partner dalam pentas teater perdana saya. Dia adalah sosok yang supel sekaligus gila, dimana kedua hal itu (bagi saya) adalah sebuah komposisi sifat yang tepat yang menjadikannya layak dijadikan sebagai seorang kawan.

Namun seiring perjalanan waktu, konon si A menjelma menjadi seseorang yang sama sekali beda. Gaya hidup apa adanya yang dulu saya temukan dalam dirinya, sekarang sudah menjadi sesuatu yang usang. Cara berpakaian dan cara bersikapnya konon benar-benar telah berubah secara drastis. Bahkan (konon) sekarang nama panggilannya juga ikut berubah, dimana dia tidak pernah lagi bersedia menengok ketika dipanggil dengan nama aslinya :).

Sementara itu si B adalah seorang kawan yang cukup banyak membantu dalam proses pembuatan film terakhir yang kami buat bersama-sama sebelum kami lulus dulu. Begitu juga halnya dengan si A, si B ini juga mempunyai sebuah komposisi sifat yang nyaris sama. Namun (sekali lagi konon) segala sesuatu tentang dirinya kini menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Dimana sejak ayahnya meninggal, dia sering terlibat percekcokan dengan keluarganya hingga akhirnya memilih pergi dari rumah dan hidup di jalanan. Ditambah lagi dengan hubungan asmaranya dengan seorang wanita psikopat yang (untuk kesekian kali: konon!!) dipengaruhi mistik dan klenik. Sebuah rangkaian perubahan yang menurut seorang kawan yang lain menjadikan si B menjadi ‘ga asik lagi’.

Terus terang saja, obrolan kami malam itu cukup menggelisahkan saya. Bukan karena sebuah fakta bahwa kawan-kawan saya ternyata berubah menjadi ‘ga asik lagi’, melainkan karena lahirnya sebuah pertanyaan dalam diri saya: apakah di mata orang lain saya juga telah mengalami metamorfosis semacam itu? Sebuah metamorfosis yang membuat saya menjadi manusia yang sama sekali berbeda dari sebelumnya? Jika memang iya, apakah metamorfosis yang saya alami termasuk dalam kategori metamorfosis yang positif, atau justru negatif? Sebuah evolusi yang membuat saya menjadi manusia yang lebih baik, atau justru semakin parah? Jika memang menjadi manusia yang lebih baik, tentu saja tak masalah dan harus disyukuri. Namun jika menjadi manusia yang justru (semakin) tidak baik? Apakah perubahan semacam ini masih bisa dikatakan perlu? Betapa evolusi ternyata memang benar-benar belum berhenti.

*gambar diambil dari sini

3 komentar:

  1. Dony mengatakan...
     

    Soal mistik dan klenik itu menjadi 'hard news' bagi saya, wekekeke. Opo tho le le

  2. koboi urban mengatakan...
     

    memangnya kamu gak berubah? memangnya kamu, konon (jangan dibalik) masih asik? don't be so sure, my friend \m/

    kita semua berubah, kawan. the only constant is change. asik gak asik itu hanya persepsi. mereka masih asik koq, cuma udah 'aneh', hahahaha..

  3. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ dony:
    mungkin seharusnya kita ga meninggalkan acara infotainment

    @ koboi urban:
    ya.. memang hanya perubahan yang masih tetap abadi (nan jaya)...

Posting Komentar