Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Kata-Kata Yang Terkhianati

;Catatan Pementasan Bengkel Muda Surabaya ‘Pesta Pencuri’

Bagi seorang penulis, tiada kata-kata yang digoreskan dengan tujuan sia-sia. Keberadaan sesuatu yang ingin disuarakan adalah sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan. Kesadaran inilah yang rupanya dikesampingkan Bengkel Muda Surabaya ketika mementaskan naskah Pesta Pencuri di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Senin (17/10) lalu.

Sebelumnya, naskah teater karya Jean Anouilh ini telah dibawakan Bengkel Muda Surabaya di sebelas tempat lain di Indonesia, yaitu Gedung Simonstok Malang (24 Februari 2007), Komunitas Celah-Celah Langit Bandung (11 April 2007), Kampus UK Petra Surabaya (27 April 2007), Lokasi Pengungsian Korban Lumpur Lapindo Sidoarjo (16 Juni 2007), Kompleks Lokalisasi Kremil Surabaya (23 Juni 2007), Kampus Unmuh Surabaya (30 Juni 2007), Komunitas Teater Populer Jakarta (28 Juli 2007), Komunitas Suket Bojonegoro (16 Februari 2008), Komunitas Bengkel Panggung Jember (15 Maret 2008), Dewan Kesenian Blitar (17 Mei 2008), dan Festival Seni Surabaya (3 Juni 2008).

Sejak lampu panggung menyala untuk pertama kalinya, penonton disuguhi repertoar dengan pengolahan komposisi aktor yang lumayan rumit dan saya yakini membutuhkan latihan yang ekstra ketat. Namun sayang, naskah yang diterjemahkan Asrul Sani pada 1986 ini seakan menjadi barisan kata-kata yang terkhianati. Hal ini disebabkan inovasi sang sutradara dalam proses penggarapan yang (agak) di luar kelaziman. Di mana tiap-tiap dialog yang tertulis dalam naskah, diucapkan sang aktor dengan ritme yang super cepat.

Entah apa yang ada dalam pikiran Zainuri, sang sutradara, sehingga menerapkan metode semacam ini. Namun yang jelas, cara yang di ambil ini ternyata cukup ampuh mereduksi pesan yang disuarakan. Sehingga makna tiap-tiap kalimat yang ditulis Jean Anouilh dengan seksama (dan diterjemahkan Asrul Sani dengan penuh seluruh), menjadi sesuatu yang menguap entah kemana. Tak lagi sekedar merasuk di kuping kanan untuk kemudian keluar di kuping kiri, namun benar-benar menjadi sesuatu yang gagal masuk ke kuping.

Namun saya masih merasa cukup beruntung malam itu, di mana sebelum pertunjukan saya telah menyempatklan diri untuk membaca sinopsis cerita yang tetulis di leaflet pertunjukan (sesuatu yang sebelumnya amat sangat jarang saya lakukan dan selalu saya hindari). Sehingga meski kata-kata yang meluncur dari bibir sang aktor gagal saya tangkap dan pahami, namun setidaknya alur cerita yang dibawa masih bisa saya ikuti. Tidak seperti beberapa kawan yang (setelah pertunjukan) mengaku benar-benar buta akan jalan cerita, karena tidak sempat membaca sinopsis sebelumnya. Bagi saya, fakta semacam ini sudah menjadi sebuah bukti akan suatu kegagalan pementasan (teater). Di mana audience membutuhkan bantuan selembar leaflet (sesuatu yang sebenarnya hanyalah faktor pendukung sebuah pementasan), untuk bisa memahami apa yang ingin dibicarakan.

Menikmati repertoar malam itu mengingatkan saya akan pertunjukan teater tradisional Jepang, Noh. Bukan karena adanya kemiripan di antara keduanya (karena memang tidak mirip sama sekali), melainkan justru karena masing-masing di antaranya seakan menjadi antithesis bagi yang lain. Di mana jika dalam Pesta Pencuri dialog pertunjukan dibawakan aktor dengan cara ekstra cepat, sementara dalam Noh dialog justru dibawakan dengan cara super lambat. Dan kedua-duanya (seperti yang saya baca dalam sebuah leaflet pertunjukan Noh), terbukti mereduksi pemahaman penonton akan dialog yang dibawakan.

Selain persoalan inovasi cara pembacaan dialog yang cukup mengganggu tersebut, (menurut saya) masih ada keteledoran lain yang dilakukan sang sutradara. Di mana Pesta Pencuri adalah pertunjukan yang dikonsep untuk panggung prosenium, namun dipaksakan untuk dibawakan di teater arena. (Sekali lagi) beruntung, posisi saya ketika menonton adalah di depan panggung. Entah apa jadinya jika saya berada di sisi samping, dan terpaksa melihat para aktor yang berjalan dari belakang untuk menyiapkan posisi sebelum kemudian masuk ke panggung pertunjukan.

Namun di luar bentuk pementasan, ada satu hal yang cukup membuat saya terkesima. Sebuah bentuk konsistensi yang menurut saya amat sulit ditandingi. Bagaimana tidak, jika salah satu aktor (Mastohir) tercatat di leaflet terlahir pada 29 September 1946. Dan bagaimanapun, bermain teater di usia 62 hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang benar-benar konsisten di dunia teater. Sebuah fakta, yang seharusnya bisa memotivasi para aktor teater muda untuk terus berkarya.

*gambar diambil dari sini

2 komentar:

  1. Dony Alfan mengatakan...
     

    OOT, py opo ksibukanmu saiki? Ojo kakean nganggur, mengko ndak ndolo koyo aku, hehe
    Ayo, kapan ngumpulke blogger fisip?

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ dony alfan:
    saya selalu sibuk mas... he3... ngumpulke blogger fisip? aku malah pengen mbubarke... :)
    (comment-mu ga nyambung sama postingan. buang sampah pada tempatnya bung....)

Posting Komentar