Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Aku (Tidak) Berpikir Maka Aku Ada

Mungkin jika Rene Descartes masih hidup pada detik ini, air matanya akan terlalu sering menemu kering. Ketika melihat bagaimana daya pikir manusia (yang konon adalah makhluk mulia) semakin hari justru semakin dikebiri. Pameo cogito ergo sum yang pernah dia populerkan beratus-ratus tahun yang lalu, kini tak lebih dari kalimat purba yang dibisikkan makhluk Extra Terrestrial yang terlempar dari pesawat UFO-nya.

Subyek yang hidup di dalam sistem kapitalisme harus bersiap dengan dua pilihan yang mungkin ditemukan, menang atau kalah. Namun seperti pada kodratnya kehidupan, kekalahan dan hal-hal negatif lain bukanlah sesuatu yang diharapkan. Namun sayangnya, tak jarang keinginan untuk menang seringkali ditindaklanjuti dengan prosesi penghalalan segala macam cara. Di mana acara apapun akan dilakukan, asal hasil yang didapat sesuai harapan. Termasuk juga dengan menjual harga diri secara besar-besaran dan (bahkan) mengkampanyekan kebodohan. Hal demikianlah yang tengah dilakukan perusahaan telekomunikasi XL melalui iklan terbarunya, yang belakangan ini seringkali wara-wiri di layar TV.

Iklan tersebut memperlihatkan sekumpulan monyet (jenis simpanse), yang tengah membahas bagaimana sengsaranya manusia yang dipusingkan hitung-hitungan tarif telepon provider lain yang terlalu njelimet. Pada intinya, iklan ini mengirimkan sebuah pesan bahwa jika manusia menggunakan kartu XL, manusia tidak harus pusing memikirkan hal itu. Hal ini dijelaskan secara gamblang dalam tag line yang digunakan, ngga’ usah mikir.

Sepanjang catatan saya pribadi, ini adalah iklan ketiga XL yang bisa dikatakan nirkualitas. Di mana sebelumnya ada iklan versi ‘kawin dengan monyet’ yang akhirnya dicabut penayangannya, dan iklan versi ‘XL-klamasi’ yang juga sempat menuai protes beberapa pihak (selain juga sempat dibahas secara mendalam oleh seorang rekan blogger). Dan untuk kali ini, entah apa yang ada di dalam pikiran pihak XL hingga masih saja melakukan hal yang sama (dan mungkin justru lebih parah). Yaitu dengan melahirkan sebuah iklan yang (seakan) mengirimkan sebuah pesan ‘daripada berpikir keras, mending menggunakan logika monyet…’. Di mana hal ini berarti bahwa XL menginginkan agar banyak manusia berpikir dengan cara monyet.

Namun sebenarnya sampai di sini timbul sebuah pertanyaan lanjutan. Apakah iklan ini memang sebuah bentuk kampanye untuk mengajak para konsumen menjadi bodoh secara massal, atau jangan-jangan justru sebuah refleksi dari bentuk masyarakat kita dewasa ini? Jika memang hal pertama yang terjadi, tentu kita tak terlalu sulit untuk menentukan siapa yang bermasalah. Namun bagaimana jika justru alternatif jawaban kedua yang menemu kebenaran? Dalam artian, iklan ini lahir sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi masyarakat kita yang memang sudah tidak terlalu suka untuk mendayagunakan olah pikirnya? Masyarakat yang seringkali berpikir dengan logika monyet?

3 komentar:

  1. Haris Firdaus mengatakan...
     

    kawan sy juga mencak2 nonton iklan ini. sebuah ajakan menuju banalitas hidup yang parah. masyarakat kita, dalam mengonsumsi, memang terus didorong utk tak lagi menggunakan rasionya--seperti Descartes anjurkan--tapi terus2an mengandlkan hasratnya. hasrat yang terus diproduksi secara berlipat-lipat!

  2. suarahimsa mengatakan...
     

    wah, kalo memahami iklan gak usah pake logika bung. banyak iklan yang tidak logis dan melecehkan akal sehat kita. para kreator iklan itu merupakan orang2 yang skeptis, hasrat mereka adalah : bikin konsep yang bpmbastis dan sensasional agar konsumen tertarik dengan produk yang ditawarkan. sayangnya, proses itu sering dikatakan dengan proses kreatif. nah, gimana kalo YLKI atau LSM yang anti konsumerisme bikin ILM yang bombastis dan sensasional yang isinya sindiran terhadap provider2 yang semakin keranjingan itu.

  3. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ haris firdaus:
    betul sekali..

    @ suarahimsa:
    'wah, kalo memahami iklan gak usah pake logika bung...' kalimat ini jadi terdengar agak lucu ketika keluar dari mantan mahasiswa periklanan.. he3..

    terima kasih...

Posting Komentar