Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Pertunjukan Teater

: Antara Prosesi Onani dan Media Komunikasi

Sebuah kejadian bisa dikatakan sebagai peristiwa teater hanya jika melibatkan penyaji, tempat, dan penonton. Secara terbalik juga bisa disimpulkan, peristiwa apapun yang melibatkan keberadaan tiga elemen tersebut, langsung bisa dikatakan sebagai sebuah peristiwa teater. Namun perlu digarisbawahi, bahwa yang akan dibahas disini lebih dikerucutkan pada salah satu peristiwa teater yang secara umum sudah kita akrabi, yaitu pertunjukan teater di atas panggung.

Seperti yang sudah disinggung di atas, ketiga faktor tersebut adalah hal mutlak yang harus ada (sebagai syarat untuk disebut sebagai peristiwa teater, termasuk pertunjukan teater). Namun bisa dikatakan, ketiganya bukanlah satu-satunya. Karena bagaimanapun ada hal-hal lain yang tak boleh dikesampingkan dalam proses penciptaan karya pertunjukan teater. Salah satunya adalah keberadaan pesan.

Bagaimanapun juga, pertunjukan teater bukanlah sekedar geliat tubuh dan ceracau para aktor yang tak mempunyai makna apa-apa. Pertunjukan teater (seharusnya) tak jauh beda dengan besi konduktor yang menjadi media penghantar panas. Namun apa jadinya jika sebuah pertunjukan teater hanya sekedar menjadi prosesi onani yang hanya memuaskan satu pihak (yaitu pihak penyaji) saja? Hal semacam inilah yang seringkali kita temukan di gedung-gedung pertunjukan. Penonton yang seharusnya mempunyai hak sama untuk bisa mendapatkan sesuatu dari sebuah pertunjukan, kadangkala terlupakan oleh para kreator.

Betapa sering kita temui kelompok-kelompok teater yang terlalu sibuk mengeksplorasi sisi artistik, namun justru melupakan niat awal yang mendasari mereka untuk menggelar pertunjukan, yaitu menyampaikan sebuah pesan / menyampaikan gagasan. Tak jarang sebuah pementasan yang indah dari sisi artistik, dramaturgi, maupun keaktoran, tampak terlihat gagap dalam usaha penyampaian pesan & gagasan. Padahal (dalam pertunjukan teater), keberadaan pesan / gagasan seharusnya justru ditempatkan di atas elemen-elemen yang lain. Karena bagaimanapun, teater adalah sebuah media komunikasi. Dimana kreator (/ kelompok teater) mengemban tugas menyampaikan sebuah pesan kepada komunikan (penikmat).

Memang tak dapat disangkal, masalah sampai atau tidaknya sebuah pesan, tak semata tanggung jawab sang kreator. Frame of reference dan field of experience komunikan, juga mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan proses penangkapan pesan ini. Namun adalah sesuatu yang mustahil ketika kita ingin merubah / memperbaiki / memberi saran terhadap pola pikir audience yang sedemikian banyak. Yang masih (agak) mungkin dilakukan adalah memberi masukan untuk para kreator, agar mempertimbangkan bagaimana cara menyampaikan pesan-pesan, sekaligus meminimalisir kemungkinan kegagalan proses tersebut.

Lalu sebenarnya apa yang mendasari lahirnya hal semacam itu? Entahlah. Namun yang pasti, saat ini banyak seniman-seniman egois yang hanya mengejar kepuasan pribadi mereka sendiri, tanpa mempedulikan hak penonton yang harusnya mereka penuhi. Sehingga yang terjadi pertunjukan teater tak lebih dari ajang curhat sang seniman tentang sebuah tema, yang tak mempunyai relevansi apapun dalam merubah situasi.

Hal semacam inilah yang (mungkin) menjadi kegelisahan Prita Kemal Gani. Pada pertengahan Januari 2008, Direktur salah satu sekolah komunikasi di Jakarta ini membidani kelahiran jurusan Performing Arts of Communication di lembaga yang dipimpinnya. Berbeda dengan jurusan teater di insitusi pendidikan seni semacam Institut Kesenian Jakarta atau Institut Seni Indonesia, jurusan di sekolah ini lebih mengedepankan teater sebagai sebuah media komunikasi. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa lembaga ini memang bukan sebuah institusi pendidikan seni, melainkan sekolah komunikasi.

Lalu apakah kelahiran teaterawan dari lembaga semacam ini akan merusak tatanan pertunjukan teater oleh seniman teater murni? Tentu saja tidak. Justru dengan adanya lembaga belajar (resmi) dengan metode semacam ini, sedikit banyak akan memberi sebuah sapuan warna lain dalam jagat perteateran negeri kita, dimana banyak diantaranya yang semakin mengesampingkan sampai tidaknya sebuah suara.


*Foto oleh BlontankPoer (diambil dari sini)

5 komentar:

  1. multi terrain loader mengatakan...
      Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
  2. excavator specifications mengatakan...
      Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
  3. long reach excavator mengatakan...
      Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
  4. Dony Alfan mengatakan...
     

    Itu tak hanya terjadi di pentas/pertunjukan teater saja. Tapi juga media massa,film,esai,karya sastra,dll.
    Memang susah bikin byk orang mudheng,dan seneng dgn karya2 kt.
    Btw,blogmu kok akeh spam yo

  5. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ dony alfan:
    betul sekali , mungkin memang hampir di semua ranah seni publik berlaku hal yang sama. cuma karena kebetulan saya sukanya nonton teater, ya yang saya soroti cuma teater aja.. :)

Posting Komentar