Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Manusia dan Kacamata Kuda


Sori, aku cma baca crpen2 SGA (Seno Gumira Ajidarma – pen.)’, tulis kawan saya di kotak percakapan Yahoo Messenger. Kalimat itu meluncur menanggapi tawaran saya sebelumnya, agar dia bersedia membaca tulisan terbaru saya di blog ini. ‘Kacamata kuda’, balas saya.

Ya. Bagi saya sikap tersebut mencerminkan manusia berkacamata kuda :). Meski saya secara pribadi mengaku tak memahami alasan kenapa dia berprinsip seperti itu. Entahlah. Apakah mungkin menurut kawan saya hanya cerpen-cerpen SGA saja yang berkualitas? Atau apakah hanya cerpen SGA saja yang bisa dia pahami? Jujur saja, saya tidak pernah tahu. Karena dia sendiri juga tak bersedia menjelaskan ketika saya todong pertanyaan itu.

Bahkan jika memang benar sikap tersebut dilandasi kualitas cerpen SGA yang menurutnya bagus, apakah sebuah kesalahan jika dia mencoba membaca cerpen-cerpen lainnya? Entahlah. Namun yang pasti, sesuatu bisa disebut bagus ketika ada sesuatu yang lain yang (dianggap) tidak bagus? Sesuatu adalah berkualitas ketika yang tak berkualitas mempunyai eksistensi. Seperti halnya hitam yang mengada ketika putih bukan tiada. Namun adakah kita bisa menilai sesuatu bagus atau tidak bagus, ketika kita hanya bersedia melihat satu hal dengan menutup mata terhadap keberadaan liyan? Dan sadarkah kita, meski tindakan berkacamata kuda ini tak mengandung unsur pidana ternyata bisa melahirkan sesuatu yang mungkin sebelumnya tak pernah kita duga? Karena ketika yang dibicarakan bukan lagi sekedar masalah bagus atau tidak bagus, melainkan persoalan tentang benar atau tidak benar, maka suka atau tidak suka yang nantinya akan lahir adalah pertentangan. Dan (mungkin) level terparah: peperangan.

Semua orang hidup dengan pembenarannya masing-masing….’, demikian ucap tokoh Bapak dalam naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma. Begitulah. Tiap manusia memang hidup dalam pembenarannya masing-masing. Ingat, pembenaran. Bukan kebenaran. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwadarminta (Balai Pustaka; 1984), keduanya jelas-jelas diartikan secara berbeda. Dimana pembenaran diartikan sebagai perbuatan membenarkan, sementara kebenaran adalah keadaan yang benar. Dimana sikap pembenaran semacam ini, seringkali didahului tindakan memakai kacamata kuda seperti yang sudah disinggung di atas tadi. Sebuah sikap dimana sang subyek hanya bersedia melihat satu obyek, dengan menafikan keberadaan obyek-obyek yang lain.

Coba anda singgah di sini, sini, sini, sini, sini, sini, atau sini. Lihat bagaimana masing-masing individu atau kelompok memelihara pembenaran yang masing-masing mereka imani. Sebenarnya bukan sesuatu yang salah ketika sebuah subyek meyakini sebuah 'kebenaran' dengan pembenarannya masing-masing. Dimana kita pahami, obyektifitas 100 % hanyalah nonsens. Hanya mayat tak bernyawa yang bisa benar-benar netral. Sementara bagi manusia yang hidup, pemikiran-lah yang membuktikan eksistensi. Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada), kata Rene Descartes. Dan mau tak mau, kata pemikiran tentu tak bisa diletakkan jauh-jauh dari subyektifitas.

Sekali lagi mungkin perlu ditekankan, keberadaan pembenaran dalam suatu sikap sebenarnya bukanlah sebuah masalah. Namun akan lain persoalan, ketika ternyata eksistensi pembenaran itu berdampak pada penyalahan pihak lain. Dan kemungkinan yang lebih parah adalah lahirnya pemikiran karena pihak lain tersebut salah, maka tugas kita untuk membenarkannya!!! Padahal sebenarnya selain deklarasi di kitab suci atau manifesto-manifesto lainnya, tak satupun pihak bisa menjamin dan membuktikan (secara konkret) bahwa pembenaran yang diyakini adalah kebenaran yang sebenar-benarnya.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. M. Amin Abdullah, menulis sebuah argumen menarik dalam pengantar buku Membangun Teologi Inklusif-Pluralistik karya Aloys Budi Purnomo, Pr (Penerbit Buku Kompas 2003): “Ungkapan bahwa ‘agama yang dipeluknya sajalah yang paling baik dan paling benar’ dapat dimaklumi, tetapi ‘memandang bahwa agama lain tidak baik, tidak benar, dan pemeluknya tidak perlu dihargai’ adalah ungkapan atau pernyataan yang sangat problematis dalam kacamata kehidupan sosial-keagamaan masyarakat majemuk sekarang ini.”

Dan sepertinya, pernyataan problematis yang dimaksud Prof. Amin tersebut saat ini sudah bukan lagi sesuatu yang asing. Dimana masing-masing pihak hidup memakai kacamata kudanya sendiri-sendiri, dan mempercayai pembenaran-pembenaran (yang notabene) hanyalah produk pikiran. Adakah ini keniscayaan tak terpisahkan dari satu hal yang disebut sebagai kehidupan? Tak masalah, jika memang tak harus mencipta peperangan.


*gambar diambil dari sini

2 komentar:

  1. Dony Alfan mengatakan...
     

    Ah, kau terlalu dalam memaknai sikapku, haha. Padahal itu jawaban sekenanya, aku juga baca-baca kok cerpen dari penulis2 lain. Hanya saja, dalam ranah blog, aku memang tak tertarik untuk membaca cerpen2 yang terposting. Akyu lebih enjoy baca opini2 mereka dalam bentuk esay dan lain sebagainya.
    Nanti kalo cerpen2mu sudah terbukukan, baru deh aku baca. Tapi aku juga nggak mau beli, mending minta sama sampeyan, haha.
    PS: Foto ilustrasimu kok ra nyambung. Kocomoto jaran kok koyo nggone Ian Kasela. Ato jangan2 Ian Kasela juga jaran, wakakaka

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ dony alfan:
    cerpen2 saya memang mau tak-buku-kan.. tapi rencana buat mas kawin.. tdak buat konsumsi publik... ha3...

    (ilustrasi memang ga nyambung.. :)

Posting Komentar