Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Maaf, slma ni hnya mmpu bri puisi

Maaf cnta, ku lama tak tlis puisi. Sebaris kata berkedip di layar handphone. Tak kuasa kutahan senyum. Getir. Sedikit anyir.….I'll be misunderstood.. By the beautiful and good in... This city None of it was pla-anned…Take me by the hand …Just don't try and understand… Suara Robbie Williams mendayu-dayu. Bintang di tangan masih dingin (ini kaleng kelima!). Lebih dingin dari udara di luar, kupikir. Meski dari jendela kulihat, gerimis masih tetap meriwis. Mencipta gigil pecandu malam penjelajah kelam. Gunakan bintang secara bertanggungjawab, deretan kata di kaleng menyapa mata. Getir semakin anyir. Mengingat secara tak sadar, pesan itu selalu kuturuti. Bahkan sekalipun kalimat itu tak pernah ada.

Kelebat itu; untuk sekian kali di malam ini; kembali lewat. Ya. Dia. Aku tahu. Dia yang menulis sebaris pesan singkat ini, yang belakangan mengirim tiga nama dengan cara yang (bahkan) tak disadarinya apalagi dipahaminya. Aku sendiripun terkadang ragu, adakah dia pernah merasa mengirimnya? Senja, Lintang, Bening. Tiga malaikat yang kubayangkan berlarian diantara gemericik kolam dengan sekumpulan ikan mas menari-nari di dasarnya. Tiga malaikat yang menelusup di sela-sela rumpun bambu di depan pondok kecil, tempat dimana aku dan dia tertawa-tawa gembira melihat ketiganya.

Entah kenapa aku sendiri tak mengerti. Haruskah aku bertanya kepada tuhan; dimana aku tahu tuhan sudah lama bisu; tentang semua ini? Kenapa dengan lancang dan tiba-tiba kelebat-kelebat itu belakangan terlalu sering lewat? Laknat, kalau boleh aku menghujat. Bangsat, bila aku terpaksa meralat. Bukan apa-apa, bukan karena aku tak memahami dan tak mau menerima, bahwa itu semua (mungkin) adalah impianku. Tiga malaikat, rumpun bambu, kolam ikan, pondok kecil sederhana, tanpa dusta, jauh dari gegap gempita globalisasi, kapitalisme, konsumerisme, dan juga segala -isme yang seringkali diperdebatkan di layar TV. Tapi yang aku tanyakan, kenapa harus selalu berkelebat? Apakah karena waktu, tanyaku selalu. Tapi seperti sudah kuduga, semua bisu.

Harus kuakui, aku tak muda lagi. Memang belum terlalu tua, apalagi dewasa. Tapi gerak matahari tak mampu menipu. Setiap detik berdetak, dia selalu mengawasiku. Entah ketika aku tersenyum, tertawa, menangis, bahkan bersembunyi di gerumbul semak pinggir sungai tempat bermainku di masa kecil dulu, aku tahu ’tak sekalipun matahari tidak mengawasiku’. Dan dia; ini yang aku salut; tak pernah sekalipun berdusta. Bahkan jika surga benar-benar nyata dan hanya sesuatu yang jujur yang berhak tinggal di dalamnya, aku yakin, matahari-lah penghuni pertama dan paling utama.

Denting gelas dan tawa masih sama. Manusia-manusia pengembara masih bertahan dengan pemikiran mereka. Bintang tertuang. Batang tembakau tersulut. Lembut. Dan asap yang tertimpa lampu warna-warni berkejaran. Menuju bintang, mungkin. Bintang yang disana, ralatku, bukan yang ini, lanjutku. Sedikit senyum terkulum. Kutelan tegukan terakhir. Dasar perut menghangat.

Kuraih benda kecil ajaib itu, dan jempol tangan bergerak dengan mata terpejam (he3.. aku memang sudah hapal di luar kepala semua letak hurufnya), ... jstru ak yg mnta maaf ksih, slma ini hnya mmpu bri puisi. hnya puisi... Options. Send. Enter number. Search. Kucari namanya. OK. Sebutir pesan kukirimkan. Kubayangkan barisan kalimat barusan melayang-layang sebentar di udara, lalu melesat menuju kamarnya.

…And I'm surrounded by A million people .. I Still feel alone .. Oh, let go home… Oh, I miss you, you know… Michael Buble merengek dari speaker di pojok ruang. Kuangkat tubuh dari kursi yang menahan bebanku sejak jam 8 tadi. Kutinggal beberapa lembar uang di meja. Kubayar Bintang. Langkah kakiku menuju pintu, kudorong pelan daunnya, engsel tua berderit genit. Kepalaku menoleh. Tiada satupun yang hirau, aku tersenyum (dan lagi siapa yang pernah peduli dengan derit semacam ini?). Dingin menyergap. Cahaya di seberang berpendar pengap. Laron-laron bersendau gurau hangat. Gerimis masih tipis. Kurapatkan Levi’s kumalku. Jejak menapak. Satu demi satu. Di belakang, sayup-sayup Buble masih mendayu.

BUMMMM...!!!! Benderang mengerjap dari belakang. Tiba-tiba. Panas menerjang. Punggung terpanggang. Terjungkal. Kucoba bangun. Lumpuh. Darah. Daging koyak. Kupalingkan muka. Anjing!! Mataku terbelalak. Pintu neraka terbuka!! Nyala api menari. Jerit-jerit memekak. Takbir bersahut. Tangis tak lagi gerimis. Dan pelan-pelan..., gelap mulai merayap. Lamat-lamat. Melumat. Hangat. …Let me go hoooooooome.. Buble menyayat.



* Gambar di ambil dari sini

3 komentar:

  1. haris mengatakan...
     

    narasi yg maut ini cuma fiksi kan?he2.

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ haris: :)

  3. paryo mengatakan...
     

    wah saiki ws gede tenan ki. ndang rabia ae!wong ws podho2 nyambut gawe n punya impian yg sama.he3

Posting Komentar