Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Malaikat Itu Sudah Terlalu Renta

Mereka mati….’, katamu. ‘Tidak.’, jawabku. Namun kau bantah aku, dan tibatiba kita bergumul memperebutkan kebenaran yang sebenarnya berwarna buram. Bahkan ketika pagi menyiangi embun yang sebelumnya mendekap erat batangbatang rumput kehijauhijauan itu, kau masih saja terus berusaha keras meletakkan bilahbilah pukulan tepat di kepalaku. (Tak sadarkah dirimu, bahwa pukulan itu bisa membuatku semakin bodoh, sementara kau sendiri juga memahami, bahwa otak kita samasama punya kapasitas yang tak begitu berkualitas.)

Malaikat itu ada disana !!’, teriakmu sembari menunjuk kelipkelip yang kuyakini adalah anak-anak bintang. ‘Tidak, malaikatmalaikat langit hanya terlalu renta.’, ucapku. Dan pertempuran itu (untuk sekian kali) terjadi lagi. Kini giliran kekar tanganmu yang menjambak helaihelai rambutku. ‘Sakit bodoh…’, erangku sambil meludahi mukamu. Dan kita masih bergumul ketika kokok ayam pertama membelah celahcelah jendela rumah para jelata, membangunkan mereka untuk segera menyiapkan diri bertempur melawan kehidupan, seakan kokok itu adalah jam weker abadi yang dicipta alam, yang tak pernah lelah mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia, dan karenanya harus selalu dan tak boleh berhenti berusaha.

Bumi itu bulat…’, bisikku ketika tipis pelangi melapisi langit di sebelah barat. ‘Idiot...’, kau kata, ‘Bumi itu biru.’, lanjutmu. Dan seketika kubalas dengan tendangan keras tepat di ulu hatimu. Dan seperti biasa, jurusjurus karate itu kau peragakan hingga darah membasahi kemeja satusatunya yang kupunya. ‘Bodoh, mulutku lumat…’, teriakku sambil menghitung sisasisa gigi yang masih tertanam tepat di tempatnya. Bahkan ketika para petanipetani tua itu menenteng paculnya menuju medan peperangan, kita masih saja terlalu sibuk untuk melukis luka dengan kukukuku kita.

Rumah tuhan ada di tenggara.’, mulutmu berkata. ‘Mungkin’, jawabku. ‘Namun yang jelas..., dia sudah binasa.’, lanjutku. Dan untuk pertama kalinya, kita berdiri di pihak sama, ‘Benar.’, katamu. ‘Dia telah binasa….. Bahkan sudah terlalu lama.’. Secara tibatiba senja menghampiri hampa jiwa. ‘Lalu siapa yang akan mencabut nyawa kita…’, bisikmu diantara bening telaga yang membasahi pelupuk mata. ‘Hanya kita.’, jawabku merangkulmu. ‘Bukan siapasiapa, hanya kita’. Dan pasukan senja berarak meninggalkan kita tanpa membawa serta hampa.

Gelap menyenyap, sementara kita samasama tersengat.

2 komentar:

  1. Dhamayanti Setiadi mengatakan...
     

    kang mas, bagus banget penggalan prosanya.. kapn sama2 qta jadi penulis?? btw, aku katro deh, aku mau dong, tolong di-up date-kan template blog-ku, dikasih hiasan2 apa kek, bias rame kaya punyamu...aku juga mau punya kura-kura..hehe...
    btw jadi betah neh di "kantor", aku minta no hapemu dong, thx yah.
    tapi suer, keren! walo kita beda aliran dalam nulis tapi yah, aku cukup ngerti deh...xixixixix...

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ dhamayanti setiadi:
    matur suwun mbakyu...

Posting Komentar