Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Ekspresi Yang Dikebiri

Benarkah apa yang disebut sebagai ‘kemerdekaan’ benar-benar ada di dunia ini? Sementara berbagai norma dan hal-hal lainnya buatan manusia, semakin hari semakin menjadi semacam tirani bagi kebebasan kita?

Bebas boleh, asalkan disertai tanggung jawab’. Kalimat ini tentu sudah terlalu akrab mampir di telinga kita. Namun masihkah kebebasan bisa disebut sebagai ‘kebebasan’, ketika tak lagi diijinkan memiliki otonomi tersendiri? Melainkan masih harus disertai dengan keberadaan secarik ‘persyaratan’?

Konon, seni adalah sebuah dunia dimana kebebasan mendapatkan surganya. Dan karena itu, para seniman kadang diidentikkan dengan keliaran. Mungkin memang benar, karena batas antara kebebasan dan keliaran hampir tak bisa dibedakan. (Meski sebenarnya, hal itu hanya didasari atas perbedaan sudut pandang). Seseorang yang melakukan kebebasan, mempunyai potensi yang lebih besar akan terjerumus dalam keliaran. Namun meski berpotensi, tentu saja tak semuanya bisa digeneralisasikan. Dalam artian, bebas dan liar (meski berkorelasi) tidaklah berarti sama.

Beberapa hari terakhir ini, kita dijejali media dengan pemberitaan tentang prosesi pengebirian beberapa bentuk ekspresi seni. Lagu Gosip Jalanan dari Slank, dan juga film Fitna karya seorang anggota parlemen Belanda, terpaksa mengalami guncangan. Keduanya, dianggap bukan lagi sebatas ekspresi seni. Namun, telah menjelma menjadi sebuah bentuk penghinaan dan pelecehan.

Dewan kehormatan DPR merasa kebakaran jenggot, ketika mendengar syair Gosip Jalanan, yang menyebut-nyebut kata ‘mafia senayan’. Entah, kenapa jenggot mereka merasa harus terbakar, hanya karena sebait syair lagu (yang sebenarnya keberadaanya sudah terlahir beberapa tahun yang lalu). Dan lagi, kenapa mereka harus sedemikian GR, hingga mereka berpikir bahwa yang dihujat dalam lagu tersebut adalah ‘mereka’? Bukankah ‘mafia senayan’ sebenarnya bisa diartikan apa saja? Tergantung siapa yang melafalkan, dan siapa yang mendengarnya?

Menurut Dewan Kehormatan DPR, syair lagu tersebut telah melecehkan lembaga parlemen Negara. Hingga akhirnya, muncul sebuah wacana untuk melakukan gugatan (Dan beruntung hanya berhenti sebagai wacana. Jika tidak, berarti Negara ini memang benar-benar mendekati kegilaan. Dimana wakil-wakil rakyat, tak lagi bisa memahami cara mengapresiasi karya seni). Menurut mereka, seharusnya sebagai warga Negara, kita harus menghormati sebuah lembaga Negara. Dan yang jadi pertanyaan, masihkah kita harus menghormati, jika hujatan yang kita lontarkan ternyata berbicara (atau setidaknya mendekati) tentang kebenaran?

Tentu saja pernyataan itu tak sekedar terucap begitu saja. Tanpa disertai keberadaan fakta. Karena terbukti, belum sampai berganti minggu, apa yang diributkan antara DPR dan Slank menemukan relevansinya. Al Amin Nur Nasution, seorang anggota Komisi IV DPR RI, tertangkap tangan oleh KPK, karena diduga menerima suap dari Sekretaris Daerah Bintan. Dan selanjutnya, KPK kembali menangkap Hamka Yandhu (anggota Komisi XI DPR RI)dan Antony Zeidra Abidin (mantan anggota Komisi IX DPR RI) terkait dugaan kasus aliran dana BI.

Dan untuk kali ini, jenggot para wakil rakyat sepertinya benar-benar terbakar. Bersamaan dengan hal itu, seketika beberapa kalangan di DPR mengatakan, bahwa hal tersebut adalah ulah sebagian ‘oknum’. Yang berarti, bukan representasi kelakuan semua anggota lembaga. Ya. Oknum. Selalu kata ini, yang digunakan ketika ada cela dalam sebuah lembaga. Entah polisi, tentara, atau apapun juga. Begitu juga, agama.

Seperti diketahui, belakangan ini telinga kita seringkali mendengar kata Fitna. Film karya Geert Wilders, dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap islam. Gambar mayat-mayat bergelimpangan karena pengeboman, yang disertai kutipan-kutipan ayat-ayat suci al quran, dianggap sebagai penghinaan terhadap islam. Dan serupa dengan DPR, mayoritas umat islam angkat bicara secara membabibuta, mengatakan bahwa pengeboman-pengeboman itu, hanyalah ulah ‘oknum’ yang tidak mengerti islam secara keseluruhan.

Oknum. Untuk kesekian kali sosok ini kembali dijadikan kambing hitam. Entahlah, kenapa belakangan ini, betapa sedikit orang yang (bersedia) menyadari, bahwa metode semacam ini (sebenarnya) tidak menyelesaikan permasalahan. Mungkin memang benar, bahwa korupsi DPR dan pengeboman teroris, memang dilakukan sebagian ‘oknum’. Namun pernahkah kita sekali saja bertanya, kenapa (bisa) ada oknum-oknum tersebut dalam sebuah lembaga? Kenapa sampai ada koruptor di DPR? Kenapa bisa ada teroris di tubuh islam? Bukankah tak menutup kemungkinan, bahwa sebetulnya memang ada sedikit kesalahan dalam sistem lembaga-lembaga tersebut? Yang akhirnya melahirkan keberadaan sosok-sosok yang disebut sebagai ‘oknum’ itu?

Sebagai contoh, misalnya ada seorang remaja yang memperkosa anak balita tetangganya. Apakah hal tersebut langsung bisa dikatakan, bahwa kejadian tersebut mutlak kesalahan sang remaja? Apakah tidak mungkin bisa diselidiki, kemungkinan peran serta ‘kesalahan’ orang tua dalam mendidiknya? Begitu juga lingkungan sekitarnya? Sekolahnya? Guru-gurunya? Teknologi? Dan sebagainya dan sebagainya?

Mengatakan kata oknum memang hal yang paling mudah, ketika sebuah lembaga yang menaungi kita, mendapatkan sebutir cacat. Namun, ini bukanlah sekedar masalah kebenaran ‘kesalahan oknum atau bukan’. Bukan itu yang diperdebatkan. Yang menjadi masalah, kenapa lembaga-lembaga tersebut selalu lepas tangan, ketika ada sesuatu yang menjadi bagian dari dirinya terbukti melakukan kesalahan?

Ok. Katakan, bahwa para teroris hanya menumpang kebesaran nama islam. Untuk menjatuhkan islam. Mereka bukanlah seorang islam sejati. Mereka sama sekali tak mengenal islam. Hanya pura-pura sok islam. Ok. Katakan itu sebagai sebuah kebenaran. Namun yang jadi pertanyaan (jika memang hal itu sebuah kebenaran), kenapa bisa ada pihak-pihak semacam itu? Yang menumpang kebesaran islam? Yang pura-pura sok islam? Yang bisa tak mengenal islam? Dan yang sampai berkeinginan merusak islam? Kenapa ada semua itu? Dan pertanyaan serupa, juga layak ditujukan untuk DPR. Kenapa bisa ada koruptor di tubuh parlemen?

Sebuah pertanyaan yang tak mudah memang. Namun sesuatu yang sulit, tidaklah berarti tak mempunyai jawaban. Dan itu, adalah tanggung jawab masing-masing dari kita; yang menjadi bagian dari lembaga yang (konon) sedang dinodai ulah oknum tersebut; untuk mencari jawabnya.

Dan terakhir, untuk para seniman, tak perlu berkecil hati ketika kebebasan mulai dikebiri. Karena sebenarnya, hal semacam ini bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Pada dekade 60-an, sosok misterius Ki Pandji Kusmin-pun mengalami hal serupa. Gara-gara cerpen 'Langit makin Mendung' yang dimuat Majalah Sastra edisi 8 Agustus 1968 dituduh melecehkan islam, dia harus berhadapan dengan pengadilan (Meski hanya diwakili HB Jassin; redaktur majalah Sastra;, yang secara jantan melindungi identitas asli sang penulis). Pun juga dengan Salman Rhusdie yang menulis novel fenomenal Ayat-Ayat Setan. Selain itu ada juga puisi Malaikat karya Saeful Badar yang 'dihabisi' Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jawa Barat. Puisi yang dimuat 'Khazanah' Pikiran Rakyat 4 Agustus 2007 itu, dianggap jauh dari estetika seni sastra, dan tidak mengandung etika penghormatan terhadap agama. Dan selain itu, masih banyak lagi prosesi pengebirian-pengebirian yang lainnya.

Padahal sebenarnya, menikmati sebuah karya seni bukanlah sesuatu yang sulit dan rumit. Karena dalam seni, eksistensi penggunaan kosakata ‘salah’ dan ‘benar’ ,bukanlah sesuatu yang wajar. Tidak seperti dalam matematika. Seni hanya bicara tentang keindahan, yang (tentu saja) bagi masing-masing manusia, mempunyai kadar yang berbeda. Ketika kita menilai karya itu indah/bagus, ya sudah, kita tinggal menikmatinya. Namun jika tidak, ya kita tinggalkan saja. Seperti kalimat sakti yang seringkali diungkapkan Gus Dur, ‘Gitu saja kok repot…’.

Bukankah kafilah disarankan untuk berlalu, jika ada anjing yang menggonggong? Lalu kenapa sekarang justru banyak kafilah yang ikut-ikutan menggonggong? Dan yang lebih parah, tidak hanya balas menggonggong, namun juga tak segan-segan mencakar. Bahkan menggigit. Sebuah sikap yang lebih anjing dari sekedar anjing (Lalu siapa yang sebenarnya anjing?).

0 komentar:

Posting Komentar