Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

seperti kemarin ;tak ada puisi untukmu malam ini

‘Mana?’, matamu bertanya. Dan seperti malam-malam yang lalu, lidahkupun memilih untuk menjadi kelu. Tiada satupun kata yang berhasil meloncat untuk sekedar memberi sedikit alasan atas apa yang tidak pernah kuberikan. Aku bukannya tak menganggap keberadaanmu, bahkan aku siap jika memang harus menukar seribu malam terbaikku dengan lima menit keberadaanmu jika memang dewata menghendaki hal itu. Tapi sebait puisi? Bukankah itu terlalu sulit?

Masih kuingat benar pertanyaan pertamamu beberapa tahun yang lalu, ketika senja mulai memasuki pelataran halaman rumah kita. ‘Kenapa selama ini tiada satupun puisi yang kau tulis untukku? Bukankah kau seorang pujangga?’, tanyamu. Dan aku hanya termangu mendengar sebuah tanya yang tak kusangka-sangka akan keluar dari sekuntum bibir yang selalu melumatku ketika serombongan hujan hadir.

Ya. Mungkin aku memang seorang pujangga, setidaknya menurutmu. Tapi apakah hal itu menjadi sebuah alasan bahwa aku akan menjadi seperti seorang tukang sihir yang demikian mudah mengayunkan tongkat untuk merubah setiap apa yang kutemui menjadi sebait puisi? Dan bahkan seribu cericit burung-burung pipit berbulu jingga yang kutemukan di pelataran taman-pun tetap saja menjadi seperti apa adanya. ‘Kenapa selalu saja perang, gelandangan, dan kelaparan yang ada di lembar-lembar antologi ciptaanmu?’, kau mendesak. Dan tahukah kau, ketika itu aku terdesak.

Aku sama sekali tak bermaksud menyembunyikan sesuatu dari pelupuk mata hatimu. Aku hanya ingin kau belajar untuk mendapatkan sendiri jawaban atas setiap pertanyaan, bahwa hanya kegelisahanlah yang bisa melahirkan sebuah risalah, dan hanya keindahan yang tak sempurna yang bisa menjelma menjadi sebaris puisi dan prosa. Sedangkan kau, adalah sebuah keindahan paripurna yang tak memerlukan bantuan apa-apa.

1 komentar:

  1. Anonim mengatakan...
     

    Semoga saja itu untuk selamanya...

Posting Komentar