Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

sayang rasa sayange

Sesuatu akan terasa lebih berharga ketika kita kehilangan sosoknya. Entah siapa orang bijak yang pertama kali menemukan kalimat ini. Tapi siapapun dia, bagi kita (terlebih yang pernah merasakan kehilangan) pasti akan sulit untuk membantah kebenarannya. Seperti yang saat ini sedang dialami oleh negeri kita tercinta. Setelah pulau Sipadan dan Ligitan yang harus terlepas dari genggaman, saat ini kita harus kembali berkonfrontasi dengan tetangga kita karena sebuah lagu.

Seperti yang kita ketahui, lagu ‘Rasa Sayange’ yang selama ini kita yakini sebagai sebuah lagu dari salah satu daerah kita di negeri ini saat ini telah digunakan sebagai lagu tema promosi pariwisata negara Malaysia. Tentu saja hal ini mengundang banyak cacian dan makian dari beberapa pihak di negeri ini, dimana kita semua juga tahu bahwa kasus ‘pencurian’ ini bukan yang pertama kali terjadi. Selain kasus perebutan pulau Sipadan dan Ligitan, kita juga pernah nyaris mengerahkan pasukan TNI untuk menembak pesawat Malaysia di Ambalat. Belum lagi dengan kasus Batik dan Wayang yang saat ini telah dipatenkan sebagai buah karya kebudayaan Malaysia.

Lalu benarkah Malaysia berperan sebagai satu-satunya pihak yang bersalah dalam semua kasus ini? Tidakkah dalam kasus-kasus tersebut pihak kita juga turut andil menyumbang kesalahan? Lihat saja kasus Sipadan dan Ligitan. Apa yang telah pemerintah kita lakukan dulu ketika kedua pulau itu masih menjadi bagian dari negara kita? Apakah pemerintah kita memperhatikan kesejahteraan rakyatnya? Dan apakah pemerintah kita peduli dengan keberadaannya? Jika ya, kenapa tak ada satupun fasilitas publik yang memadai yang dibangun pemerintah kita disana? Bahkan pemerintah kita juga acuh tak acuh ketika warga disana lebih terbiasa menggunakan mata uang Ringgit daripada Rupiah untuk bertransaksi jual beli. Dan pemerintah kita juga tenang-tenang saja ketika banyak warga disana yang tak mempunyai selembar KTP sebagai bukti bahwa mereka adalah bagian dari negeri ini. Jika hal itu yang terjadi, kenapa kita harus merasa kehilangan ketika kedua pulau itu direbut oleh pihak luar?

Begitu juga dengan kasus wayang dan batik. Apresiasi semacam apa yang telah kita berikan terhadap kedua jenis hasil kebudayaan ini? Jika selama ini kita cenderung tak peduli hingga tak terbersit sedikitpun niat untuk mematenkan kedua produk itu sebagai hasil kebudayaan negeri kita, kenapa juga kita harus merasa marah ketika produk itu dipatenkan oleh pihak lain? Demikian juga halnya dengan kasus lagu ‘Rasa Sayange’ yang saat ini sedang ramai diperbincangkan.

Terlepas dari itu semua, yang jelas saat ini pihak radio pemerintah Malaysia sudah tidak memutar lagu tersebut dalam setiap program acaranya sekaligus meminta pihak radio-radio swasta juga melakukan hal yang sama, mengingat keberadaan kasus tersebut bisa memperburuk hubungan kedua bangsa yang sejak dulu memang sudah biasa berseteru. Dan sebagai imbasnya, Kementerian Informasi Malaysia saat ini juga menyerukan kepada pihak media disana untuk tidak terlalu banyak memutar lagu-lagu dari Indonesia. Menteri Informasi Malaysia, Zainudin Maidin mengatakan bahwa banyaknya lagu-lagu dari negeri kita yang diputar di Malaysia telah mengalahkan pamor karya-karya musisi Malaysia, dan oleh karena itu pihak pemerintah Malaysia berusaha untuk membatasi lagu-lagu anak-anak negeri kita yang diputar disana.

Sebenarnya ini adalah keputusan yang patut untuk dipertanyakan. Apakah mereka tak memahami bahwa satu-satunya yang berhak menjustifikasi karya seni publik adalah publik itu sendiri? Pamor musisi mereka tak mungkin akan kalah ketika mereka bisa menciptakan sebuah karya yang ‘lebih’ dibandingkan karya-karya dari negeri kita. Tidakkah keputusan itu hanyalah sebuah refleksi ketakutan musisi-musisi Malaysia yang merasa terancam karena tak bisa menyaingi kualitas karya-karya dari Indonesia yang memang lebih bisa diterima publik disana? Jika memang bisa membuat karya yang lebih hebat, kenapa harus takut untuk bersaing secara sehat? Bukankah akhirnya publik juga yang akan bicara?

1 komentar:

  1. Joell de Franco mengatakan...
     

    Bener mas Lintang, saya rasa Indonesia sudah mulai(padahal udah telat) harus belajar mengapresiasi kekayaan asli Indonesia...Pas adem ayem ditelantarin, tapi begitu diklaim pihak lain baru deh kebakaran jenggot... Ning cen Malaysia ki yo bedebah tenan kok, lha piye nek di lurug mrono wae??!!!

Posting Komentar