Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

‘untitled’ ;kepada Papernas

‘Masih terlalu pagi untuk bicara tentang malam…’,
selalu itu yang kau ulang-ulang tiap kali kita bertemu dalam percakapan;
;Entah ketika kita bercengkerama di gereja kecil yang kau dirikan tepat di bawah rimbun kamboja yang kutanam sejak aku masih muda; entah ketika kita masih tersengal dan berkeringat usai bercinta dalam barisan ayat-ayat do’a; juga ketika sepasang kaki kita berlarian mencetak tapak-tapak mungil di sela-sela kerikil yang terseret bersama bening hujan yang tertumpah bersama air mata tuhan; dan juga ketika kita rebahan setelah menempuh perjalanan yang selalu kurasa singkat bersamamu hingga tiba-tiba aku merasa terlalu tua karenanya, (seakan jarum waktu mencatat tiap-tiap detik dengan skala yang berbeda dengan skala milik kita);

Bahkan masih kuingat benar, senja kemarin dulu kau juga mengatakan hal yang nyaris persis sama tentang mimpi-mimpi yang selalu menghantuiku ketika tidur di siang hari, yang katamu; sekali lagi; masih terlalu dini untuk menjelang kata malam,
Dan ya. mungkin kau benar,
(dan lagi siapa yang punya hak untuk menyalahkan selain firman?)

tapi bagaimana caraku untuk membunuh keraguan diantara derap sepatu lars bertali hitam milik para santri yang berteriak dengan makian-makian haram?
Sejujurnya kuyakini aku tak pernah bisa paham,
Bagaimana seseorang bisa disalahkan ketika tak ada sedikitpun niat untuk menoreh darah, melainkan hanya sekedar bicara tentang indahnya merah.

0 komentar:

Posting Komentar