Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Dua matahari mati satu dalam revolusi

Kulihat dua keping matahari menetes dari bibir-Mu pada suatu sore penuh debu. Menyalang terang dalam benderang membasah desah-desah bisu hingga tiada lagi syahdu di pinggir telaga ungu. Bisik-bisik gila yang biasanya bicara teriring seutas dawai tua memang sudah terlalu renta.

(Tapi apa lagi yang masih bisa mengucap selain lengang?)

Kulihat dua tetes matahari berkeping-keping tersangkut di ujung kemaluanku. Yang kemarin Kau ludahkan dari bibirmu. Dan sekarang kubunuh satu.

0 komentar:

Posting Komentar