Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Darah itu merah kawan...

Katupkan matamu wahai kawanku
Karena esok ketika pelupuk langit di timur sana mulai membara,
akan kubawa kau serta dalam sebuah perjalanan melintasi awan gemawan menelisik rintangan demi rintangan menuju sebuah pasar swalayan yang berkilau gemerlapan
Jangan lupa bawa semua uang dan kartu kredit yang kau miliki saat ini, karena mungkin segumpal otak yang kau butuhkan itu, berharga lebih mahal dari minyak wangimu...
dan setelah kita dapatkan otak yang cocok untuk kupasang di dalam kepalamu yang semula beku; yang mungkin akan melebihi milik marx, gandhi, atau bahkan muhammad;, akan kubawa kau melintasi pedalaman Jogja agar kau lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana nasib para korban gempa di tenda-tenda penampungan yang katanya hanya sementara,
Lalu ketika kita sudah puas menikmati itu semua karya petaka, kita akan melanjutkan perjalanan ke timur sana untuk melihat dari dekat pekatnya lumpur Sidoarjo yang telah dengan amat berhasil membunuh hampir semua kenangan dan sisa-sisa harapan,
Dan jangan pernah sekali-kali kau curiga bahwa aku juga akan membawamu ke singapura untuk sekedar belanja celana,
Karena ketika senja mulai melata, kita berdua mungkin justru akan merangkak di kolong-kolong jembatan di sudut kota, menjaga agar mata kita lebih terbuka dan tidak buta, karena disana akan kita temukan semerbak kemiskinan yang mewarnai hampir seluruh sudut negeri ini….
Oleh karena itu wahai kawanku,
Pejamkanlah matamu malam ini, dan biarkan pekat yang lelap menelanjangimu di depan cermin-cermin retak penuh debu, yang kemarin sore dibelikan ibuku dari pasar yang kini telah habis terbakar...

0 komentar:

Posting Komentar