Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Membincang tentang Hilang

I. hilang : tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan

Bimo Petrus Anugerah. Herman Hendrawan. Wiji Thukul. Mereka adalah orang-orang yang hilang. Terlalu banyak bersuara. Hingga kekuasaan membungkamnya.

Tahun 2008 rumah saya dibobol maling. Pagi-pagi, koleksi Anthurium kakak saya tak ada lagi di tempatnya. Hilang.

Waktu SD saya pernah menangis. Majalah Bobo baru yang belum sempat saya baca seluruhnya tiba-tiba tak ada. Hilang.

Tidak ada lagi. Lenyap. Tidak kelihatan.

Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya (Q.S 23: 18)



II. kehilangan : hal hilangnya sesuatu

Yang tak pernah kehilangan adalah yang tak pernah memiliki . Itu benar. Bagaimana tidak? Sesuatu tak akan mungkin kehilangan sesuatu yang tak pernah dimilikinya. Memiliki adalah syarat mutlak dalam prosesi kehilangan. 'Kalau takut kehilangan, jangan pernah mencoba untuk memiliki' , seorang komandan perang berteriak serak. Di penghujung suatu pertempuran. Dan anak buahnya mulai mengokang senjata. Menggoreskan tinta hitam di muka. Tak ada lagi rasa. Bunuh. Bunuh. Bunuh. 'Kita adalah mesin penghancur...' , doktrin serdadu mengaliri pembuluh nadi. Dan perang pecah.

Saya tak ingat lagi. Berapa kali dalam hidup saya merasa kehilangan. Rocky, anjing peliharaan saya sewaktu kecil, diracun orang ketika saya kelas lima. Dia mati di pangkuan saya. Liur menetes. Mata memelas. Regang nyawa. Tiga hari saya enggan makan. Mungkin itulah pertama kali saya rasakan gejolak nafsu untuk menghancurkan. Ketika itu saya ingin menemukan orang yang tega meracun Rocky, untuk lalu menyodorinya racun yang sama. Mati dibalas mati.

Dan kehilangan Rocky ternyata bukan apa-apa. Masih banyak kehilangan yang lain lagi. Kehilangan nenek. Kehilangan kakak perempuan. Kehilangan calon keponakan. Hingga kehilangan terbesar pertama saya. Kehilangan bapak . 23 Agustus 2003. Saya masih ingat betul. Kurang lebih sebulan sebelum ulang tahun ke-duapuluh dua saya. Ketika itu saya duduk di semester tiga. Bapak berpulang. Di pangkuan ibu. Ketika puluhan tetangga bersiap lantunkan tahlil. Ketika saya bersiap dengan air wudhu. Terdengar jerit itu. 'Ásu!!!' , saya berlari. Tapi seberapa cepat sih langkah kaki?? Bapak sudah dingin. Mata ibu serupa telaga. Ada perih menggenang di sana. 'Bapakmu le...' , ibu menatap saya. Dan saya tak ingat lagi yang terjadi setelah itu. Yang pasti, itulah saat-saat awal keretakan hubungan saya dengan Tuhan. 'Do'a tak menyelesaikan segalanya' , pelajaran yang saya ambil ketika itu.

27 Ramadhan 1426 H. Saya masih ingat betul. Ramadhan terakhir menjelang kelulusan dari bangku kuliah. Saya kehilangan yang lain lagi. Seperti yang lalu-lalu, tak ada kehilangan yang tak sakit. Dan ketika itu, saya marah. Tengah malam saya ketuk pintu seorang kawan. Saya sodori dia sebilah gunting. Saya minta dia potong habis rambut sepunggung saya. Kras kras kras... Lepas lepas lepas. Tiba di rumah, ibu menangis. Melihat anaknya botak. Helai rambut yang saya taruh di plastik warna hitam, dimintanya. Disimpannya. Hingga sekarang. Keesokan hari, seorang kawan kampus ternganga. 'Kenapa?' , dia bertanya. 'Tak apa. Aku tak percaya Tuhan itu ada' , saya membaca proklamasi. Sejak saat itu, kami ; saya dan Dia ; bercerai.

Laju laju laju.. waktu melaju. Saya berdiri tegap. Saya merasa maha bisa. Semua. Dan memang. Meski masih beberapa kali ada yang hilang, saya tetap masih merasa bisa menang. Hingga penghujung tahun kemarin. Sebuah peristiwa memalingkan muka saya kembali ke Tuhan. Pertanyaan yang saya pelihara sekian tahun ternyata bukan pertanyaan sebenarnya. ' Bukan masalah ada atau tak ada.. tapi bermakna atau tidak bermakna... ', sebuah bisikan mengisi pori-pori. 'Duh Gusti... ternyata saya salahh....' , sujud malam-malam. 'Subhaana rabbiyal a'laa wa bihamdih... Subhaana rabbiyal a'laa wa bihamdih.. Subhaana rabbiyal a'laa wa bihamdih... Tak henti-henti.

Namun tanpa diduga sebelumnya . Itu hanyalah awal dari sesuatu yang lebih akbar. Suatu senja di sebuah kota kecil. Ada dingin di sana. Ada banyak lagu cinta. Dan juga tawa-tawa. Satu pukulan telak mendarat di ulu hati. Bukkkk!!! Sesak. Muka sentuh kanvas. Kunang-kunang mengambang di awang-awang. Seperti bintang. Dan selanjutnya saya melangkah tanpa arah. Jam 3 pagi, saya ingin didongengi. Seseorang merelakan tidurnya. Alice in Wonderland diceritakannya. 'Datanglah ke Me***t, ada seseorang yang menantimu di sana'. Dan pagi, saya berangkat. Hanya sunyi dan pohon Bodhi. Tak ada siapa-siapa. Selain kolam luas penuh airmata. 'Tuhan masih menyayangimu...' , bisikan lembut dari masa lalu . Ya. Saya tahu. Ini tanda cinta-Nya. Dan saya-pun mulai mencoba berdiri.

Jujur. Ketika itu luka masih menganga. Lebam belum menghitam. Pening di kepala juga terasa. Tapi saya mencoba bahagia. Hingga suatu petang. Di saat tawa mulai sedikit ada, uppercut keras mendarat di rahang. ' Yang ini-pun juga harus kau lepaskan...' , suara dari langit sana.
Duh Gusti... saya terkapar. Lalu apa lagi yang boleh saya miliki? Lalu yang mana lagi yang bisa saya perjuangkan? Bukankah ini terlalu menyakitkan?
Tanya berbalas tanya, 'Kamu masih kuat ngga? He??'.
'Ini berat Gusti... Ini berat...'
'Lha kalo berat kamu mau apa? Bunuh diri?'
'Nggih mboten...'
'Lha terus?'
Saya diam.
'Tenang ae bro... Ini belum apa-apa...'
'Injih Gusti, dalem taksih kiyat... dalem taksih kiyat...'


Saya teringat Chairil kecil dalam AKU-nya Sjuman Djaja. Berdiri di geladak kapal. Badai menerjang-nerjang. 'Tidak ibu, badai ini belum apa-apa. Masih ada badai yang lebih besar di depan sana', Chairil kecil menolak permintaan ibunya agar masuk ke dalam kapal. Sembunyi dari badai. Ya. Masih ada badai yang lebih besar.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Q.S 29: 2)



III. menghilang : melenyapkan diri; menjadi tidak kelihatan lagi; tidak memperlihatkan diri lagi

Sepertinya kelas dua SMA. Saya pertama kali berpikir tentang sebuah prosesi bunuh diri. Di mana pergelangan tangan yang teriris, untuk kemudian dilanjutkan dengan darah yang perlahan menetes, sakit yang berderit, dan diakhiri lepasnya nyawa. Menghilang. Saya bayangkan saya hilang. Menjadi tidak ada lagi di dunia. Bahkan saya secara konyol mulai menghitung-hitung kira-kira ada berapa orang yang akan menangisi kepergian saya. Tapi bagaimanapun, saya hanya berhenti di tahap berpikir. Tak pernah sekalipun berinisiatif mencoba. Saya tak berani. Tak berani terlihat bodoh, maksudnya.

Beberapa tahun kemarin saya sempat merasakan apa yang disebut amnesia. Meski tak lebih dari 12 jam. Ketika itu motor yang saya kendarai ditabrak dari belakang. Saya salah. Belok tanpa menyalakan lampu sign. Helm terpental. Dan kepala saya terantuk keras di aspal. Saya hilang ingatan. Begitu sadar, ada ibu, kakak, dan tetangga-tetangga saya. Saya tiba-tiba lupa, benar-benar lupa , kenapa saya di sana. Saya buka tas, ada 1 bendel naskah teater Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya. Lalu ada handuk, sabun, dan peralatan mandi lainnya. Ini apa? Saya mau kemana? Saya menjerit. Untuk kemudian pecah tangis. Saya gila!! Saya tak ingat apa-apa!! Namun beruntung, amnesia yang saya rasa hanya bertahan sementara. Seiring waktu, tak lebih 12 jam , saya kembali setelah sempat menghilang.

Februari 2010. Saya sangat merindu amnesia. Saya ingin lupa segalanya. Saya ingin menghilang. Tak ada lagi sejarah. Tak ada lagi masa lalu. Yang ada hanya masa kini dan masa depan. Mungkin akan lebih baik seperti itu, kata benak saya. Tapi kerinduan saya tak pernah terwujud. Saya gagal menjadi amnesia. Saya masih ingat segalanya. Bahkan terlalu ingat. 'Hallah kamu itu... Sejarah masih jauh dari kata selesai.. Lha wong ini saja baru akan dimulai lagi... :)' , sms Gusti dari Arasy. Dan saya hanya tersenyum, 'Baiklah Gusti... dalem kentun nglampahi... Lagi...'

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan sendau gurau belaka (Q.S 47: 36)


***


Utan Kayu, 6 Maret 2010

2 komentar:

  1. Haris mengatakan...
     

    kawan saya beberapa waktu lalu mengirimkan sms dan pesan ke kawan2nya di acount FB. intinya dia minta maaf atas semua kesalahannya dan mohon pamit. saya pikir dia akan bunuh diri. ternyata hanya pindah ke luar kota. he2

    gimana mas andik, pripin kabare? lama tak bersua?

  2. Tria nin mengatakan...
     

    ayo masuk ke terowongan kelinci hup hup hup hup

Posting Komentar