Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Tentang Harapan

; Kenapa manusia membutuhkan Tuhan


Jadi begitu. Harapan. Manusia terdiri (dan berdiri ) dari itu. Tanpanya manusia tak lebih dari ilalang yang bergoyang-goyang. Gerak ke kanan tanpa paham kenapa harus kanan. Meliuk ke kiri tanpa ngerti ada apa dengan kiri.

Tidak semua manusia itu kuat. Bahkan Hitler sekalipun di ujung ajalnya menyebut nama Tuhan. 'Oh my God', bisiknya, 'Eva Braun', lanjutnya. Kenapa? Hitler butuh harapan. Hitler perlu pegangan. Dia paham dia akan mati. Dan dia butuh sesuatu agar dia bisa mati dengan nyaman. Dan sesuatu itu adalah Tuhan (dan istrinya).

Kruschev juga. Saat Sovyet pertama kali meluncurkan pesawat ruang angkasa dia berkata, 'Sudah kami jelajahi ruang angkasa, tak satu Tuhan pun kami temukan'. Tapi di depan Izrail, kalimat terakhir Hitler juga-lah yang akhirnya dia lafalkan. Pun juga dengan Antony Flew . Dia akhirnya memilih berpaling kepada Tuhan, ketika tak semua pertanyaan menemukan jawaban. 'Karena orang-orang sudah pasti terpengaruh oleh saya, saya ingin berusaha dan memperbaiki kerusakan besar yang mungkin telah saya lakukan', ikrarnya.

'sapa yang bisa jd tempat untuk menanyakan ini mau di bawa kemana, enaknya gimana, baiknya gmn, bagusnya gmn, biar ada pakem yang jelas...', seorang kawan melempar tanya. Di layar internet. 'Tuhan', seseorang menjawabnya. Begitulah. Ketika tiada lagi tempat bertanya, Tuhan adalah jawabnya. Kenapa? Karena manusia butuh sesuatu yang bisa dijadikan pegangan. Sesuatu yang diyakini bisa memberikan alternatif jawaban. Harus ada jawaban. 'Dialah Yang Awal dan Yang Akhir. Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. 57:3)'

'Cedhak karo Gusti kui marai ayem (Dekat dengan Tuhan itu membuat hati tenang)', sebuah bisikan. Lembut. Sangat lembut. Begitulah. Manusia butuh ketenangan. Dan ketenangan itu ada ketika seseorang mempunyai harapan. Sekali lagi, manusia bukan rumput. Dan manusia tidak bisa menjadi rumput. Meski suatu waktu pasti menjadi tanah. Yang mungkin akan ditumbuhi ilalang.

Lalu bagaimana dengan atheisme? Tidak semua manusia sekuat itu. Tidak semua manusia berani memikul sendiri semua beban. Menciptakan, memelihara, dan menghegemoni kekuasaan atas harapan. Berarti manusia ber-Tuhan itu lemah? Semua manusia itu terlahir lemah. Dan semua ingin menjadi kuat. Karena itu mereka butuh nutrisi. Dan nutrisi itu tercipta dari sebuah ramuan kuno yang menjadikan harapan sebagai bahan.

Tepat di titik inilah, benar-benar ada atau benar-benar tidak adanya Tuhan menjadi satu pertanyaan yang tiba-tiba basi dan tak butuh jawaban. Bermakna atau tidak bermakna justru menjadi sesuatu yang jauh lebih penting. Oportunis? Sama sekali tidak. Makna sama sekali beda dengan guna. Antara yang spiritual dan yang material.

'Jadi kenapa manusia membiasakan diri untuk ber-Tuhan?', seorang guru agama bertanya di depan kelas. 'Karena manusia terpaksa harus punya harapan', jawab seorang murid di pojok belakang. Ya. Mungkin begitu. Semoga semester depan dia meraih ranking satu. 'Tuhan bersamamu..'

Rata Penuh

Utan Kayu 23 Des.09

0 komentar:

Posting Komentar