Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Kanjeng Sunan dan Kerbau-Kerbaunya

Di masjid menara. 'Pilihlah kerbau. Hormati kaum Hindu' , Sunan Kudus bersabda. Di depan pengikutnya. Dan semua menurut. Takbir menggema. Kerbau-kerbau berdarah. Penggal. Penggal. Penggal. Darah. Darah. Darah. Mereka Ismail yang menjelma. Yang terikat di altar. Martir yang siap dibakar.

***

'Tidakkah Sunan Kudus berdosa? ', seseorang berbisik. Dedaun gemerisik.
'Kenapa?'
'Bukankah dulu, jaman Musa, Kanjeng Pangeran melegalkan pembunuhan sapi-sapi? Agar beberapa Yahudi yang memuja hilang penghormatannya?'*
'Lalu?'
'Kenapa beliau memilih cara damai? Ketimbang frontal?'
'Kau ingin mengintervensi tugas-Nya? '
'Bukan begitu..'
'Lalu?'
'Aku hanya heran..'
'Apakah dengan begitu kau pikir Sunan Kudus tak Islam?'

Bungkam.
'Tenanglah.. Banyak hal yang tidak perlu dijelaskan hingga benar-benar jelas'**
'Tapi aku punya otak'
'Karena ada Yang Membuat'
'Berarti aku tak boleh berpikir?'
'Justru harus. Seperti Sunan Kudus'

Satu bintang jatuh. Tiada do'a. Yang meminta apa-apa.
(Mereka percaya, bintang jatuh tak pernah bisa apa-apa. Selain bercahaya)
'Tapi bukankah Al Bagarah menjelaskan...'
'Qur'an hanya memintamu untuk berpikir. Itu saja'

Malam gulita. Bicara di pinggir bara. Daging kerbau cipta aroma.



* Q.S Al Baqarah :67
** Dikutip dari novel Lembata karya F. Rahardi

2 komentar:

  1. lina mengatakan...
     

    haduh, dalem nih. jadi benar-benar mikir saya...

  2. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ lina: apanya yg dalem? apanya yg dipikir? :)

Posting Komentar