Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Cerita Tentang Seorang Kawannya Kawanku yang Tertawa Ketika Melihat Orang Lain Menderita dan Suka Memakai Jilbab Merah Muda

10 Zulhijjah
Berduyun bermukena. Sarung dan peci warna jelita. Seseorang tanpa nama di jauh sana. Berjilbab merah muda. Kubayangkan lakukan hal serupa.
'Allahuakbar.. Allahuakbar.. Allahuakbar.. Lailahailallahuallahhuakbar...' . Takbir. Takbir. Takbir. Setan menyingkir. Berdiri di pinggir.

'Mbeeekkkk... Mbeeekkk..' , Persetubuhan hewan-hewan. Sebelum menjadi korban. Dan leher terpenggal. Nadi tanggal. Darah muntah. 'Puji Tuhan!! Inilah pengorbanan!!' , si Tanpa Nama Berjilbab Merah Muda turut kirim do'a. Pulang ke rumah wajah sumringah. Kresek hitam berisi daging. Bukan anjing. Cap halal dari MUI.
'Kita sate saja..' , teriaknya kepada ibunda.
'Gulai juga lezat' , kubayangkan sang bapak meralat.
'Dua-duanya. Toh siang nanti pasti ada yang mengirim lagi' , ibu berseru.
'Setujuuu' , serempak.
'Inilah pengobanan!!!'

11 Zulhijjah
Tanpa Nama Berjilbab Merah Muda di depan laptopnya. Facebook menyala.
'Hatiku sedang flu' , seorang kawan kirim pesan.
'Ha ha ha.. Sudahlah.. Apa yang kau harap darinya...' , Tanpa Nama Berjilbab Merah Muda tuliskan suara.

Di surga Ibrahim titikkan air mata, 'Untuk apa pengorbanan jika tak paham penderitaan . Ismail-pun berduka, 'Ya. Meski hanya milik seorang kawan..'

0 komentar:

Posting Komentar