Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

Jerit Gurit Arit

'Cangkul..cangkul... cangkul yang dalam.. menanam padi di sawah kita...', petani-petani menyanyi. Peluh. Legam. Sengat. 'Hidup di kota saja, di desa kalian takkan maju. Paling-paling seumur hidup jadi petani', Karmin 'Joni' membujuk. Merayu. Poskamling penuh. Wangi. Parfum Karmin 'Joni'. 'Bapak bapak ibu ibu siapa yang punya anak...', Karmin Joni mengangkat henpon-nya. 'Halo.. eh elu bro, lagee dimana? Bla bla bla..'. Mul Iprit mlongo. Kawan-kawan seragam. Kota kota kota, kata otak mereka. Senja. Poskamling semakin gempita.

'Kita harus meningkatkan import beras.. Bla bla bla..', Pak Menteri berbusa. Layar TV berwarna. Halaman kelurahan. Lik Wage klepus klepus. Djarum 76. Cleguk. Kolomenjing Kang Giman. Kopi Lampung. Kenthel. 'Krisis finansial global tak terbendung lagi, kian hari terlihat bergerak kian "liar dan ganas". Krisis keuangan yang berawal dari krisis subprime mortgage itu merontokkan sejumlah lembaga keuangan AS. Pemain-pemain utama Wall Street berguguran, termasuk Lehman Brothers dan Washington Mutual, dua bank terbesar di AS. Para investor mulai kehilangan kepercayaan, sehingga harga-harga saham di bursa-bursa utama dunia pun rontok...**', Gadiza Fauzi. Jelita setengah mati. Klepus.. hisapan terakhir. Cuuuh... Lik Wage meludah. Sedikit merah. 'Genjer genjer.. neng kedhokan pating keleler...', Mbah Dawam nembang. Malam malam.

* Gambar diambil dari sini

**http://www.antara.co.id/view/?i=1223791340&c=ART&s=

0 komentar:

Posting Komentar