Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

'Ereksi' Bersama Sensual

Ini baru musik!!’, kalimat inilah yang terus berteriak di kepala saya ketika menikmati konser musik jazz Band Sensual di Gedung Teater Besar Institut Seni Indonesia Surakarta, Kamis (5/3) malam lalu. Selama kurang lebih satu setengah jam, jiwa saya benar-benar ’ereksi’ menikmati penampilan lima musisi Belanda tersebut. Personel Sensual teridiri dari empat laki-laki dan seorang vokalis perempuan. Mereka adalah Erniel van Rijthoven (Keyboard), Rik Kraak (Bass), Tim Dudek (Drum), Alaor Soares (Perkusi), dan Eva Kieboom (Vokal).

Terus terang saya bukanlah seorang penikmat musik sejati yang sanggup berbicara banyak tentang tetek bengek dunia permusikan. Tapi tentu saja hal itu bukanlah sebuah alasan bagi saya untuk tidak bisa (dan tidak boleh) mengatakan bahwa pertunjukan Kamis malam lalu itu adalah pertunjukan musik yang bagus.

Menurut leaflet yang saya terima sebelum pertunjukan, gaya kelima musisi ini lebih tepat digambarkan sebagai Brazilian Jazz ’n Grooves. Tapi apalah arti sebuah nama, kata Shakespeare. Yang jelas, malam itu musik mereka berhasil membuat jiwa saya ereksi dan menari-nari. Terlebih lagi setelah beberapa bulan terakhir ini, seringkali pagi saya dirusak kawan-kawan dari tetangga kamar kos yang menyetel ST 12, D’Massive, Marvells, dan musik-musik (yang menurut saya) busuk, dengan volume yang tak begitu wajar bagi konsumsi telinga (saya).

Masih menurut leaflet yang saya baca, Sensual telah menerima penghargaan Edison Jazzism Audience Award 2008 dengan perolehan 42% suara (terdengar seperti Pemilu? :). Menurut saya sesuatu yang amat wajar jika kita berkesempatan melihat penampilan langsung mereka. Selain komposisi musik yang memang digarap dengan matang, Sensual benar-benar memahami arti penting interaksi langsung dengan para penikmatnya. Sehingga jarak antara penonton dan penyaji menjadi sesuatu yang nyaris tidak ada sama sekali.

Menikmati Sensual, saya benar-benar memahami pameo ’musik adalah bahasa universal’. Buktinya, Bahasa Portugis yang digunakan dalam keseluruhan lagu-lagu mereka (yang tak satu katapun saya pahami artinya), sama sekali bukan penghalang dalam usaha penyampaian aura yang termuat dalam musik mereka. Rasa riang gembira yang mereka bawakan sempat beberapa kali membawa jiwa saya melayang-layang dalam dunia asing tak bernama. Sementara aroma kesedihan yang ngelangut tak jarang membawa perasaan saya dalam sebuah kondisi kamar sepi bernama kesendirian.

Ya, mungkin penggambaran yang saya berikan di atas terdengar sedikit berlebihan. Saya sendiri juga tak begitu paham, apakah memang benar-benar perasaan semacam ini yang saya rasakan, atau karena sedari awal saya sudah menyiapkan diri untuk menerima kondisi indah seperti ini. Tak menutup kemungkinan juga, jika puja puji yang saya tulis di sini didasari kekeringan referensi musik yang saya cerna selama ini (Terakhir kali pertunjukan musik ’berkualitas’ yang saya nikmati adalah konser Rizky Summerbee & The Honeythief yang digelar di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah bulan Desember lalu).

Mungkin memang benar apa yang dikatakan salah seorang kawan selepas pertunjukan (yang kebetulan adalah seorang Music Director sebuah stasiun radio swasta di Solo, dan karenanya hampir pasti sense of music-nya jauh lebih mumpuni dibanding saya), bahwa seringkali improvisasi-improvisasi personel Sensual terlalu keluar jalur’. Menurut kawan saya tersebut, hal ini ’terlihat seperti upaya memamerkan skill masing-masing personel’. Dan akibatnya, ’proses kembalinya alunan musik ke jalur yang benar menjadi sedikit terkoyak'. Selain itu (masih menurut kawan saya), beberapa bagian dari pertujukan itu terdengar agak monoton dan membosankan.

Tapi bagaimanapun juga, keseluruhan pementasan malam itu bagi saya pribadi cukup menghibur. Bukan hanya dikarenakan sensualitas sang vokalis :), tapi karena musik yang mereka bawakan memang benar-benar sensual. Hanya mungkin satu hal yang agak saya sesali adalah ketidakpatuhan saya terhadap saran MC untuk me-nonaktif-kan (namun justru sekedar mengaktifkan profile silence!) perangkat komunikasi. Karena akibat dari tindakan itu, di tengah-tengah pertunjukan mood saya sempat sedikit rusak karena sebuah pesan singkat (dari seseorang, sebut saja namanya Bunga :) yang menyinggung tentang ’pekerjaan yang dinilai tidak menjamin kelangsungan masa depan bla bla bla..’. Tapi puji syukur, karena bertepatan dengan darah yang mulai bergerak perlahan ke ubun-ubun, HP saya mati karena kehabisan baterai. Sebuah kebetulan yang tidak memberikan kesempatan bagi saya untuk memelihara emosi yang kemungkinan besar akan merusak ’ereksi’ saya malam itu.

Applause for Sensual!!


*Foto-foto diambil dari http://www.bandasensual.com

0 komentar:

Posting Komentar