Suluk Lintang Lanang

Pikiran itu sampah. Ini penampungannya.

Selamat datang

Jika anda mencari sesuatu di sini, percayalah, anda takkan menemukan apa-apa.

Tentang Penulis

Setyo A. Saputro. Lahir dan besar di Karanganyar. Saat ini menjadi pekerja media di sebuah portal berita nasional.

JedaRuangArus

; Close Up Theater a la Teater EMKA

Ruwet. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan setelah menikmati pentas Teater EMKA, JedaRuangArus, di Ruang Serba Guna Taman Budaya Raden Saleh, Semarang, Senin (11/8) lalu. Namun menurut sang sutradara, Norma Atika Sari, hidup di kota memang ruwet. Jika tidak mau ruwet, jangan hidup di kota.

Ya. Pementasan ini memang membicarakan tentang kehidupan di kota. Berikut semua masalah dan segala sesuatu yang melingkupinya. Termasuk di antaranya, proses mutasi dan evolusi manusia menjadi robot-robot kota mini-logika, dan juga tentang pola konsumerisme yang semakin menggejala dan menggila. Dimana manusia-manusia (kota) saat ini semakin terbiasa mengkonsumsi bukan karena kebutuhan, melainkan lebih dikarenakan oleh adanya keinginan.

Lalu dimana letak ke-ruwet-annya? Hal ini tak lebih dikarenakan pola penggarapan naskah, yang memilih tak berjarak dengan penonton. Dimana jika (biasanya) dalam pertunjukan teater konvensional aktor dan penonton dipisahkan jarak serta dimensi, dalam pementasan ini audience justru diletakkan pada posisi yang sama sekali tak berjarak dengan pementasan itu sendiri. Bahkan bisa dikatakan, penonton adalah bagian dari pementasan itu sendiri. Dalam hal ini, penonton sah-sah saja jika dipersepsikan sebagai properti, atau bahkan (mungkin) sebagai aktor.

Pementasan ini menerapkan konsep panggung melingkar. Sejak awal mula, penonton digiring untuk masuk pada pola keruwetan yang direncanakan, dengan ditempatkan pada sebuah ruang yang dibatasi dinding yang terbuat dari kertas koran dan tempelan-tempelan poster. Setelah itu para aktor memasuki panggung dengan cara melewati penonton yang berdesakan, dan selanjutnya memulai pementasan.

Pentas yang digarap secara surealis ini, dilengkapi juga dengan slide video yang cukup menarik. Dimana di layar proyektor, ditampilkan bayi-bayi ayam potong yang diproduksi dan disortir sebelum didistribusikan ke para peternak. Dari tampilan ini terlihat bagaimana mengerikannya proses cuci otak yang dilakukan kehidupan kota terhadap para penduduknya. Namun sayangnya, penempatan layar dan bentuk panggung yang dipaksakan melingkar, membuat beberapa penonton yang berada di depan layar tersebut tak bisa menikmati rangkaian gambar dengan nyaman.

Seperti yang sudah disinggung, keberadaan penonton disini tak hanya sekedar sebagai obyek, melainkan juga sebagai subyek. Dimana jarak yang biasanya terentang jauh antara penyaji dan penonton, dalam repertoar ini bisa dikatakan (sama sekali) tidak ada. Hal ini memungkinkan terjadinya proses interaksi antara aktor dan audience. Namun sayangnya, kedekatan ini belum dimanfaatkan para aktor secara maksimal. Para aktor masih telihat belum nyaman dengan keberadaan penonton di sekeliling mereka. Interaksi yang harusnya bisa lebih mencairkan suasana, masih saja belum tercipta.

Penggarapan semacam ini mengingatkan saya pada close-up magic. Yaitu salah satu aliran dalam dunia sulap, yang sering dimainkan di hadapan penonton secara langsung (termasuk juga di jalanan). Dibandingkan dengan aliran-aliran lain semacam ilusi magic atau mental magic, secara teknik metode ini bisa dikatakan sedikit lebih sulit. Hal ini dikarenakan keberadaan subyek dan obyek yang hampir tak berjarak. Hingga resiko terkuaknya kebohongan sang pesulap, akan semakin besar. Namun justru karena ketidakberadaan jarak itu pula, proses penciptaan sensasi rasa dan keterlibatan penonton dengan kehebatan trik sulap itu, menjadi lebih mudah. Mengingat penonton dan pesulap, berada dalam suatu tempat dan waktu yang sama. Akan lain halnya dengan aksi sulap ilusi yang dipentaskan di atas panggung atau (bahkan) di layar televisi.

Begitu juga dengan pementasan JedaRuangArus kali ini. Secara teknik, kemungkinan besar metode penggarapan ini akan (lebih) menyulitkan para aktor. Dimana mereka diharuskan berakting di depan / di tengah-tengah penonton secara langsung. Namun dari segi penciptaan suasana dan keterlibatan, penggarapan semacam ini akan menguntungkan kreator. Dimana sedari awal penonton memang dilibatkan secara langsung dalam pementasan tersebut. Imbasnya, keruwetan-keruwetan (dan segala suasana yang diharapkan kreator) yang direncanakan, tidak hanya dirasakan oleh para penyaji. Melainkan juga dirasakan oleh para penonton yang berdesakan di sekeliling aktor.

Bukan bermaksud merendahkan, namun seperti yang sudah disinggung di atas, pola penggarapan semacam ini (bisa dikatakan) lebih mudah dalam proses penciptakan suasana dan keterlibatan di benak penikmat. Yaitu jika dibandingkan dengan mementaskan pertunjukan, dengan media panggung konvensional. Dimana di panggung konvensional, para aktor dituntut menularkan suasana yang diciptakan di atas panggung pementasan, kepada penonton yang berada di posisi penikmat. Suka atau tidak, harus diakui bahwa keberadaan jarak antara subyek dan obyek berpotensi mengurangi kualitas prosesi tersebut.

Namun bagaimanapun juga, (meski sebenarnya bukan sesuatu yang baru) pola yang digunakan Teater EMKA dalam JedaRuangArus kali ini adalah sesuatu yang menarik. Dan bisa dikatakan, apa yang diinginkan para penyaji ketika memutuskan memilih pola penggarapan tersebut sudah terealisasi. Buktinya keruwetan yang ingin dikondisikan, benar-benar sudah dirasa nyata. Setidaknya oleh saya.

3 komentar:

  1. puisijelek mengatakan...
     

    mase pinter tenan ik! jos pokoke! hehehehe!

  2. wonggoblognge mengatakan...
     

    ha...2x ok bozz

  3. Sang Lintang Lanang mengatakan...
     

    @ puisijelek:
    hehehe juga...

    @wonggoblognge:
    ok juga..

    matur sembah nuwun.

Posting Komentar